Super easy paper flower

Bahan-bahan:
- Kertas warna
- Sedotan
- Lem kertas
- Gunting
- Solatip

IMG_1351

Caranya:

IMG_1352
lipat kertas warna ke arah atas

IMG_1353
lipat lagi ke arah kiri, dan ulangi sekali lagi

IMG_1354
gunting sisi yang terbuka

IMG_1346
tempel ujung kertas dengan solatip pada sedotan

IMG_1347
gulung sampai ujung, lalu tutup kembali dengan solatip

IMG_1348
bisa bikin berbagai macam bentuk

IMG_1349
a happy girl!

Life is good

when you can work outside your office
and enjoy the beautiful Kebun Raya Bogor

IMG_1364

IMG_1362

IMG_1363

Saya termasuk orang yang gembira ketika kantor memutuskan menerapkan konsep agile working beberapa tahun lalu.Di kantor saya, para pegawai bisa memilih 1 hari untuk kerja dari rumah atau luar kantor. Untuk ibu-ibu seperti saya, selain rata-rata mengabisakan 4-5 jam di perjalanan (crazy! i know!), kerja sesekali dari luar kantor juga menjadi ajang menyengarkan pikiran

seperti hari ini, ketika saya memutuskan berkantor di Cafe Dedaunan Bogor. Melihat pemandangan yang hijau, angin yang sepoy-sepoy, diselingi musik degung sebagai latar belakang, otak saya rasanya tercerahkan. Cukup bermodalkan laptop dan modem, saya bisa connect ke internet kantor bahkan menyaksikan webcast langsung dari London.

life is good..

Those Parenting Moments..

Ketika jabatan ibu resmi disandang, selalu ada momen-momen setiap hari dimana saya merasa menjadi orang tua, betul-betul orang tua. Saat-saat seperti ini, selalu membuat saya tersenyum kecil dan merasakan rasa hangat menjalar di hati. Selalu..

Beberapa momen kecil itu adalah

Memindahkan Zee dan Aleeza ke kamar saat mereka tertidur di mobil, atau di depan tv. Membopong badan besarnya yang lunglai, selalu membuat saya merasa menggendong mereka saat masih bayi.

Mencium mereka saat lelap tertidur. Nafas yang teratur, wangi minyak telon campur keringat yang khas, dan perpaduan pipi lembut. Selalu membuat malam saya terasa sempurna

Kalau mereka nangis dan bangun tengah malam, lalu memanggil nama saya (well, karena pada malam-malam tertentu kadang nama neneknya yang dikumandangkan), bisa berbisik” bune disini nduk” , melihat matanya terbuka sesaat, melihat saya, lalu tidur lagi. Ah, berjuta rasanya

Menyisiri rambut mereka yang sering kusut, sambil ngobrol ngalor ngidul.

Kalau Aleeza bilang “big hug bune” atau “ butterfly kisses please”. Atau Zee bilang “umek bune, umek aku”. Kruntelan di kasur sama mereka dan ketawa-ketawa.

Juga ada saat-saat dimana saya tertegun, melihat Zee dan Deeza yang seolah tumbuh dalam sekejap mata saja. Seperti saat peringatan Hari Kartini lalu..

IMG_1089

IMG_1110

IMG_1122

IMG_1121

IMG_1124

IMG_1116

Sebagai ibu bekerja, saya tidak punya privilege mengantar anak setiap hari. Jadi saya berusaha meluangkan waktu ketika Zee akan kartinian di sekolah. Sama seperti tahun lalu, acaranya memakai baju daerah, lalu fashion show dan berbagai lomba.
Dan sama seperti tahun lalu, perlu waktu membujuk Zee untuk mau memakai baju daerah yang bentuk rok! Saya lalu membiarkan dia memilih baju sendiri.Zee memilih baju adat Jambi dan sudah wanti-wanti tidak mau memakai asesorisnya. Baeklah nak..

Dari dulu gadis kecil say a ini perlu waktu berada di keramaian. Dia akan memberi ruang pada dirinya untuk observasi, melihat apa yang ada di sekeliling untuk menentukan apakah dia akan nyaman bergabung dengan kerumunan. Saya mengerti itu, karena saya pun begitu. Dan untuk anak-anak seperti ini, berjalan fashion show beberapa meter saja sudah butuh berjuta keberanian.
Tapi melihatnya berjalan di catwalk mini dengan langkah awal yang malu-malu, lalu tersenyum dan melambai pada saya, membuat saya terharu sendiri. Iya, ini adalah salah satu momen parenting itu.. Momen dimana saya menyadari bahwa saya seorang Ibu. Saya tau, Zee menggugurkan banyak keraguan saat dia memutuskan berjalan, butuh keberanian untuk dia melambaikan tangan. Untuk itu saya bangga padanya. Super bangga!

Hari Kartini itu Zee ikut lomba mewarnai. Lomba pertama yang dia ikuti sepanjang hidupnya. Dari awal saya sudah wanti-wanti untuk sabar, tidak perlu cepat selesai, dan agar dia menikmati prosesnya. Dia tidak menang, tapi Zee menanggapi kekalahannya dengan santai. Dan ketika saya tanya apakah dia mau ikut lomba lagi, dengan semangat dia menjawab “Mau bune!”. Dan untuk ini, saya pun bangga padanya! Buat saya hari itu dia juara!

Ah Zee, dia memberikan saya begitu banyak pengalaman pertama. She is our star, the brightest one!

Nostalgia Bandung

IMG_1262IMG_1264IMG_1265IMG_1270IMG_1240IMG_1266IMG_1263

IMG_1267

Weekend kemarin, saya pergi ke Bandung sendirian. Menghadiri Crafty Days Tobucil di Bandung. Sedari dulu, saya selalu suka segala sesuatu yang DIY, buatan tangan, buatan rumahan. Ibu dan nenek saya penjahit ulung, piawai menjahit pakaian, membuat  tas hingga asesoris. Sampai sekarang Ibu saya masih percaya, segala sesuatu yang dibikin sendiri hasilnya lebih memuaskan. Sayangnya,kebisaan ini sama sekali tidak menjejak di diri saya. Satu-satunya ketrampilan tangan yang saya pernah coba adalah sulam pita! I was really good at it, sampai suatu hari minus kacamata saya bertambah drastis.

Jadi begitu memasuki Gedung Indonesia Menggugat yang isinya crafter semua, saya tertegun kagum. Hebat sekali anak-anak muda ini, kreatif dan punya semangat wirausaha. Saya seneng banget melihat note book lucu, lalu kerajinan batik dan kayu yang diolah apik. Favorit saya adalah boneka kain home made yang dibuat sempurna di setiap detailnya. Sang boneka punya nama, pipinya bersemu merah sempurna, ketika melihatnya saya saja bisa senyum-senyum sendiri. Yang hebat, penjualnya sungguh sepenuh hat. Ketika saya memutuskan membeli satu boneka, si mbaknya merapikan baju dan menyisir rambut sang boneka, lalu perlahan memasukkannya ke dalam kantong. Ya saya rasa itulah mengapa barang-barang home made selalu terasa punya magnet. Karena di setiap produknya, tertinggal jejak hati sang pembuat. Aleeza sangat suka bonekanya, kami memberinya nama Dolly. Zee? dia langsung bilang ” Aku gak suka boneka!” hehe gadis saya yang tomboy ini lebih berbinar jika dibawakan robot maupun mobil-mobilan.

Tapi yang bikin saya bahagia adalah saya ketemu sahabat-sahabat lama. Pagi-pagi saya sudah nangkring di hotelnya Grace, niatnya hanya membunuh waktu barang satu jam. Tapi berujung ngobrol ngalor ngidul, ketawa-ketawa senang. Setelah bertemu Grace, saya bertemu juga dengan Rima. Sahabat kuliah yang sudah 10 tahun tidak saya jumpai.

Bersama Rima, saya seperti tenggelam dalam mesin waktu. Tidak seperti saya yang sudah amnesia terhadap banyak detail kehidupan, Rima bisa mengingatnya tanpa cela. Dia membuat saya tergelak sampai berlinang air mata, mengingat berbagai permainan bodoh yang dulu kami lakukan, stress mencari dana, insecure urusan pertemanan, sampai membahas percintaan. Semua mengalir lancar, seolah kami tidak pernah berpisah 10 tahun. Saya pulang dengan perasaan hati yang penuh, jiwa saya ternutrisi sempurna.

Sesekali  berkelana sendirian, rupanya sungguh menyenangkan.

 

7 Tahun

Dear Pakne,

Ternyata sungguh, mengejar mimpi bersamamu itu begitu menyenangkan. Setahun belakangan ini, arus hidup telah membawa kita terbang jauh ke langit mimpi. Dulu, waktu Pakne bilang akan membuat 2000 kejutan untuk Bune, Bune hanya bisa tersenyum geli. Namun, tak pernah Pakne ragu akan setiap  mimpi yang Bune tuliskan. Jawabmu hanya satu “kita pasti bisa mencapainya”

Sedari dulu, Bune selalu yakin, Pakne adalah sahabat jiwa yang paling sempurna untuk menaklukkan dunia. Kala Bune resah, Pakne selalu tau cara membuat Bune tenang. Jika Bune galau, Pakne selalu bisa membuat Bune kembali menjejak. Pakne selalu tau jalan untuk pulang. Pulang kepada mimpi-mimpi kita yang besar dan well terkadang konyol.

Mengejar mimpi bersamamu juga selalu menjadi bahan bakar Bune sehari-hari. Pakne membuat Bune percaya, mimpi harus dikejar bukan hanya dengan kerja keras, tetapi juga dengan kebaikan hati. Karena hati yang baik akan selalu bersih, dan mampu membuka tabir kesulitan yang kadang menghadang. Di hadapanmu mimpi bukanlah kemustahilan, tapi dia harapan untuk diraih dan lalu digenggam kuat-kuat. Kalau terkadang jatuh, Pakne selalu percaya kita tidak pernah menjauh dari mimpi, tidak pernah mundur, melainkan hanya memutar sedikit, namun tetap mendekat.

Pakne, pahit dan manis mewarnai pelangi hidup kita. Setiap pencapaian mimpi adalah goresan cerita dan kisah. Nanti akan kita ceritakan pada Zee dan Deeza, pada anak-anak mereka. Bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Bahwa semesta selalu mendengar bisikan mimpi, sekecil apapun itu.

Selamat ulang tahun pernikahan Pakne sayang, menyerahkan hati Bune di genggamanmu tujuh tahun lalu adalah keputusan terbaik yang pernah Bune lakukan. Semoga kita tidak pernah lelah mengejar mimpi.

 

Bune

 

Tentang 6 bulan terakhir

Semalam, 7 tas besar sudah rapi berjejer di ruang tamu. September 2012 lalu kali pertama keluarga kami menjejakkan kaki di bandara San Francisco dengan perasaan tak percaya. Dan tiba saatnya kami harus pulang. Sudah lama betul saya bermimpi ingin merasakan tinggal di luar negeri. Ketika mimpi itu tercapai, hati rasanya mau meledak kegirangan. Saya tidak berpikir dua kali untuk segera cuti dari kantor dan menikmati jadi ibu rumah tangga selama 6 bulan. Ini hal yang seumur hidup selalu saya nantikan

Namun ternyata, menjalani mimpi pun penuh warna. Sama serunya ketika mengejarnya. Tanpa sadar, mimpi saya datang dengan ekspektasi. Hari- hari pertama saya keriting juga, ternyata masih banyak hal yang saya harus belajar. Saya tidak bisa masak, mencemplungkan diri ke dunia perdapuran membuat saya bolak balik kena minyak panas, makanan yang terlalu asin, juga muter otak mikir menu hari ini yang ternyata lumayan bikin pusing. Belum lagi dua gadis kecil yang cukup pemilih dalam urusan makan. Aleeza sudah menyatakan mogok nasi sejak menginjak San Ramon sampai hari ini. Saya juga harus belajar membagi waktu antara bebersih rumah, cuci baju, cuci piring, ngajak anak- anak main, dan setrika.

Tapi inilah indahnya tumbuh bersama sebagai keluarga. Perubahan drastis membuat kami masing- masing juga tumbuh. Saya belajar, tidak ada yang suka meninggalkan zona nyaman. Anak- anak rindu dengan kakek neneknya, Pakne perlu penyesuaian di kantor, saya juga perlu melepaskan pikiran dari kerjaan kantor. Jadi bersama-sama kami memperluas zona nyaman kami, merentangkan sayap sekuat tenaga agar bisa menikmati perjalanan mimpi yang sejak awal kami tahu, akan terasa sekejap saja

20130316-052441.jpg

Beberapa momen pencapaian selama enam bulan terakhir yang ingin selalu saya kenang…

Saya bisa nyetir!

Saya akhirnya menaklukkan tantangan Zaki setelah lebih dari satu tahun! Di kota kecil seperti San Ramon, urusan angkutan umum sangat minim. Hanya ada bis yang lewat setiap setengah jam, plus kaki yang selalu nyat nyut setiap pagi mengantar Azma sekolah juga berbelanja ke grocery storeMotivasi saya untuk bisa nyetir sungguh tinggi. Akhirnya setelah mengantongi sim California, saya jadi supir tetap mengantar Pakne ke kantor, lalu sering menghabiskan waktu jalan- jalan bersama anak- anak ke perpustakaan maupun ke taman. Target selanjutnya menaklukkan jalanan Jakarta!

Kami survive hidup dengan minim nonton TV

Jatah satu jam sehari nonton TV ternyata membuat anak-anak saya mampu jatuh cinta dengan buku. Mereka bisa tenggelam dalam lembaran cerita, menikmati kunjungan ke perpustakaan juga selalu antusias saat kami ke toko buku. Kami punya rutinitas baca 3 buku setiap tidur siang, dan 3 buku sebelum tidur malam. Dengan minim nonton TV anak- anak saya juga jadi haus melakukan kegiatan yang lebih kreatif dan seru. Mereka jadi lebih menikmati saat kami menggunting dan menempel, atau bermain cat air. Mereka jadi lebih hidup, dan saya pun lebih bahagia, meskipun tiap hari putar otak membuat mereka selalu semangat.

Anak- anak menjadi lebih mandiri

Satu-satunya cara agar saya bisa punya waktu mengerjakan semuanya adalah dengan memberdayakan kemandirian anak-anak semaksimal mungkin. Dulu, dengan dua mbak asisten di rumah, mereka makan disuapi, pakai baju pun tinggal dipakaikan. Disini, saya menerapkan rutinitas dan peraturan untuk mereka. Makan sendiri, mainan harus dibereskan kembali ke tempat semula, memakai baju sendiri untuk Azma, meletakkan baju kotor ke keranjang cucian, makan di meja makan dan lain sebagainya. Awal-awal mereka shock juga, namun ternyata kunci untuk membuat mereka mau berubah adalah tidak memberikan pilihan hehehe. Lama-lama mereka terbiasa, dan buat saya ini pencapaian terbesar saya sebagai Ibu. Senang sekali melihat mereka belajar bertanggung jawab.

Jalan-jalan kesana kemari

Saya selalu bermimpi menjadi keluarga yang sering travelling. Karena menurut saya, jalan-jalan itu nutrisi jiwa. Disini, kami setiap minggu jalan-jalan. Kota kami hanya 40 menit ke San Francisco,hampir setiap minggu kami menjelajahi kota cantik tersebut. Kami juga sering berkunjung ke berbagai museum. Favorit anak-anak adalah Natural History Museum, mereka selalu berbinar melihat berbagai tulang dinosaurus dan menikmati berbaga display musem tentang alam dan hewan. Pencapaian travelling paling dahsyat adalah mengunjungi Disneyland California dan pergi ke New York. Saya sendiri suka berkeliling mota di sekitar San Ramon, seperti Dublin, Danville, dan Plesanton, menikmati sore dan hembusan udara sejuk yang nyaman. Jadi, kami sudah pernah road trip naik mobil 14 jam ke Grand Canyon Arizona, mencicipi Cable Car di San Francisco, menjajal subway di New York, mencoba penerbangan domestik Amerika, hingga nyasar naik bus di San Ramon. Selama 6 bulan, kami berhasil menjejakkan kaki di 7 negara bagian yaitu California, Arizona, Nevada, Washington, Oregon, New York, dan Washington DC. Dan saya makin pinter packing dengan dua krucils!

Merasakan salju pertama kami

Kami pertama kali main salju di Lake Tahoe, California, sekitar 4 jam dari San Ramon. Dan selamanya tidak akan pernah saya lupa. Menyentuh salju yang putih dan lembut. Salju membuat pemandangan sepanjang danau menjadi negeri dongeng. Jangan tanya Azma dan Aleeza, mereka sampai harus saya bujuk untuk pulang. Kami bertahan dengan baju 4 lapis untuk menahan dingin, dan harus saya akui segalanya tampak lebih fotogenik dengan salju. Melihat salju lembut turun dari langit itu rasanya magis, dan saya belajar tidak ada perpaduan yang lebih menyenangkan daripada cuaca cerah dan salju. Bermain salju sambil bermandikan matahari adalah perpaduan sempurna.

Bertemu dan bersahabat dengan keluarga Indonesia

Di San Ramon, ada sekitar 8 keluarga dari kantor suami saya. Menjadi minoritas membuat kami sering berkumpul, mulai dari sekedar makan malam, hingga bedah buku bersama. Meski baru bertemu disini, kami sudah seperti keluarga. Saya sempat juga travelling bareng dengan beberapa keluarga, dan membuat kami tambah dekat. Sama dengan saya, perubahan membuat mereka tumbuh bersama sebagai keluarga. Kehilangan supporting system di Indonesia, membuat mereka belajar banya hal baru, dan saya banyak belajar dari mereka. Saya akan kangen dengan komunitas kecil ini

6 bulan lalu kami datang ketika musim gugur muncul. Daun-daun oranye cantik menyambut kami di San Ramon. Sekarang, musim semi melepas kami pulang. Bunga-bunga kecil dan cantik yang mekar mengucapkan selamat jalan. Saya tidak mau bersedih karena mimpi ini berakhir, saya memilih tersenyum karena semua ini terjadi.

Dalam perenungan saya, hidup itu seperti ini adanya. Mampir sebentar saja, dan ketika saya tahu bahwa waktu saya sebentar saja di Amerika, saya selalu memaksimalkan setiap harinya agar bermakna. Dan seharusnya seperti inilah saya menjalani hidup, dimana saja, kapan saja, setiap hari harus berkesan. Karena tidak ada hari yang sama, dan waktu adalah sesuatu yang tidak bisa saya beli seberapapun uang yang saya punya.

Dan kini saatnya kami pulang, hanya 7 tas berisi berbagai barang. Namun hati saya penuh berisi berbagai macam kenangan dan semangat untuk mencapai mimpi lain. Mimpi yang lebih tinggi dari sekarang.

Ikan peda dan sambal terasi, saya datang!

Last one

Belakangan, Zee sangat suka bertanya ini jika saya membeli sesuatu. “Itu last one gak bune?”. Bagi Zee berhasil membawa pulang sesuatu yang “last one” selalu istimewa. Mulai dari buku, sepatu, makanan, sampai stiker murahan yang kerap kali kami beli untuk bermain. Dia selalu tertawa puas, kalau berhasil menemukan barang yang tinggal satu-satunya.

Kalau saya tanya kenapa dia suka yang terakhir, sambil tertawa geli dia akan menjawab ” Aku yang dapat, supaya orang lain kalau beli gak bisa, jadi aku yang menang”. Iya, kemenangan telak bagi Zee.

Maka dengan spirit “last one” ini kami menghabiskan beberapa weekend di San Francisco, menghayati setiap momen,mengunjungi tempat yang belum pernah kami jejaki. Karena siapa tau, kali ini adalah the last one kami bisa mengunjungi kota cantik ini. Meski mimpi untuk kembai ke Amerika sudah saya gantungkan tinggi-tinggi.

pier 39

Hiburan pinggir laut yang mengasyikkan, tempat ini dipenuhi berbagai restoran dan toko cinderamata. Menikmati hiruk pikuk lautan manusia, menyaksikkan pertunjukkan musik dan akrobatik, sambil mencium wangi masakan yang menguap dari toko makanan. Anak-anak senang sekali menikmati cotton candy dan bermain di taman.

20130307-233046.jpg

20130307-233128.jpg

20130307-233147.jpg

20130307-233205.jpg

20130307-233217.jpg

20130307-233230.jpg

20130307-233247.jpg

20130307-233302.jpg

20130307-233314.jpg

20130307-233327.jpg

20130307-233341.jpg

20130307-233351.jpg

20130307-233404.jpg

20130307-233415.jpg

golden gate bridge

Jembatan merah ini memang harus saya akui sungguh indah. Dlihat dari sudut manapun dia selalu tampak cantik. Ketika kami datang, jembatan Golden Gate sedang diselimuti kabut. Membuat sang jembatan seolah berdiri diantara awan. Sudah berlarian kami mengejar sang kabut, ternyata dia lari lebih cepat.

20130307-233830.jpg

20130307-233850.jpg

20130307-233909.jpg

20130307-233932.jpg

20130307-234002.jpg

20130307-234013.jpg

20130307-234037.jpg

20130307-234048.jpg

20130307-234106.jpg

20130307-234134.jpg

20130307-234145.jpg

20130307-234214.jpg

Coretan Zee

20130307-231510.jpg

Tentang Zee yang sedang bermain di sekolah

20130307-231645.jpg

Tentang pakne yang mengantar ke perpustakaan

20130307-231724.jpg

Tentang “outside”

20130307-231755.jpg

Tentang Zee dan teman sekolahnya Anthony yang sedang bermain

Ibu, aku akan dewasa

Saya mampir ke sebuah blog lalu membaca puisi ini..

I won’t always cry, Mummy,
When you leave the room,
and my supermarket tantrums,
Will end too soon.

I won’t always wake, Daddy,
For cuddles through the night,
and one day you will miss,
Having a chocolate face to wipe.

You won’t always wake to find my foot,
Is kicking you out of bed,
Or find me sideways on your pillow,
where you want to lay your head.

You won’t always have to carry me,
In asleep from the car,
Or piggy back me down the road,
When my little legs can’t walk that far.

So cherish every cuddle, remember them all,
One day Mummy, I won’t be this small.

(From ‘My Children Mean Everything To Me‘)

Membuat saya merenung, setiap malam sebelum tidur, saya selalu memeluk Zee dan Deeza erat-erat. Mengunci mereka dalam pelukan. Hati saya selalu dibanjiri rasa cinta yang penuh, kala memeluk Zee yang kini tambah besar. Hampir 5 tahun usianya. Rasanya seperti kemarin saya, menimang Zee yang bulat dan lucu. Kerap kali saya berbisik “Mbak, jangan cepat besar. Plean-pelan saja”. Lalu dia akan menjawab “Nggak bune, aku gak mau besar, aku mau segini terus aja, biar disayang terus sama bune”. Coba lihat, gadis saya ini, mekar dan perlahan jejak-jejak bayi sudah hilang.

20130228-144745.jpg

Tak beda,Deeza juga mulai kelihatan luntur bayinya. Saya baru sadar, usia 2,5 tahun ini adalah usia favorit saya. Begitu lucu, polos, dan penasaran dengan segalanya. Kehadiran Deeza seperti matahari di rumah kami, dialah sang boneka yang paling kecil dan lucu. Bicaranya masih cadel sana-sini, dia suka menyanyi dan menari. Paling senang main petak umpet bersama Zee.

20130228-145141.jpg

Meski setiap hari kesabaran saya selalu diuji. Kalau ingat suatu hari nanti mereka akan tumbuh dewasa. Akan punya dunia sendiri, punya pilihan hidup sendiri, air mata saya suka menetes sedih. Dalam hati, saya ingin mereka selalu menjadi gadis cilik saya, yang bisa saya untel-untel setiap malam, dan saya cium ratusan kali sehari.

Puisi di atas sungguh sempurna, menjadi pengingat saya sebagai orang tua. Akan selalu saya ingat, masa-masa ini akan lewat. Jadi saya harus menikmatinya, plean-pel

20130228-145547.jpg

20130228-145609.jpg

20130228-145649.jpg

20130228-145710.jpg

20130228-145741.jpg

foto-foto ini adalah ketika Zee dan Aleeza pesta Valentine di sekolah. Kesukaan saya adalah foto saat Azma berusaha mengajarkan adiknya bagaimana duduk bersila

Hari Ketiga Mencicipi New York

Hari ketiga adalah hari terdingin yang kami rasakan, karena selain suhu yang sudah entah minus berapa derajat, hembusan angin yang kencang membuat saya menggigil kedinginan. Padahal matahari bersinar terang. Namun hangat sinarnya kalah oleh perpaduan angin dan udara yang menusuk tulang.

Hari ini kami jalan-jalan ke Brooklyn Bridge menggunakan subway. Awalnya kami berniat ke Brooklyn Bridge Park dan melihat Manhattan dari seberang sungai. Namun, angin yang tak bersahabat membuat kami akhirnya balik kanan, setelah melintasi satu pilar jembatan.

Brooklyn Bridge sendiri sebetulnya lucu juga untuk dinikmati, melalui jalan di tengah-tengah jembatan yang hanya bisa dilalui oleh manusia dan sepeda, struktur bangunan tua dan penyangga jembatan terlihat cantik. Saya juga sempat melihat sekumpulan gembok cinta, yang rupanya dipakai sebagai simbol mengukuhkan cinta. Dari jembatan, kami bisa melihat landscape bangunan pencakar langit New York yang megah.

20130226-150258.jpg

20130226-150352.jpg

20130226-150404.jpg

20130226-150412.jpg

20130226-150422.jpg

20130226-150431.jpg

20130226-150438.jpg

20130226-150455.jpg

20130226-150444.jpg

20130226-150505.jpg

Anak-anak sudah nangis karena kedinginan, akhirnya wajah Deeza saya tutupi dengan syal tebal dan Zee dengan selimut. Dalam perjalanan menuju arah pulang, mereka pun tertidur di stroller.

20130226-150647.jpg

20130226-150654.jpg

Perjalanan kami lanjutkan ke kantor United Nation. Kami juga istirahat sejenak untuk makan siang. Selama jalan-jalan di Amerika, kami selalu bekal rice cooker maupun kompor listrik. Saya juga menyempatkan masak makanan yang awet seperti rendang dan teri goreng. Untungnya di Amerika banyak kursi piknik yang membuat acara makan bekal jadi menyenangkan.

20130226-150916.jpg

20130226-150925.jpg

Kami lalu lanjut ke Central Park dan mampir sebentar di mawasan Lincoln Center. Aleeza lalu minta dibelikan waffle, alhasil beristirahatlah kami sambil duduk-duduk makan waffle hangat, sambil menahan dingin.

20130226-154115.jpg

20130226-154128.jpg

20130226-154138.jpg

Central Park tampil gundul hari itu. Meski demikian, kecantikannya tidak pudar. Sungguh kontras dengan sekeliling taman yang dinaungi oleh gedung-gedung tinggi. Saya membayangkan, kalau musim gugur dengan daun yang menguning, taman ini pasti cantik sekali. Zee dan Deeza langsung berlarian, sambil sesekali bermainan gundukan-gundukan salju yang tersisa. Mereka juga sempat mencoba bermain di taman anak-anak. Saya sempat melihat kereta kuda berkeliling taman. Namun karena sangat dingin, kami bergegas mencari ruangan untuk menghangatkan diri.

20130226-154439.jpg

20130226-154448.jpg

20130226-154458.jpg

20130226-154507.jpg

20130226-154517.jpg

20130226-154525.jpg

20130226-154536.jpg

20130226-154547.jpg

20130226-154630.jpg

20130226-154639.jpg

Kami menutup petualangan di New York dengan menghabiskan makam di Times Square, searah dengan pulang. Betul saja, semakin malam kawasan ini semakin hingar bingar.

20130226-154756.jpg

20130226-154805.jpg

20130226-154813.jpg

20130226-154821.jpg

20130226-154829.jpg

20130226-154837.jpg

20130226-154854.jpg

20130226-154845.jpg

Kami meninggalkan New York dengan perasaan senang dan ketagihan! Kota dengan energi yang tidak pernah padam ini membuat saya mencatatkan banyak daftar mimpi baru. Menonton show di Broadway, masuk ke Patung Liberty, pergi ke Washington Park dan banyak lagi. Kenangan mengenai New York bukan saja terletak pada berbagai tempat terkenal yang sudah kami kunjungi, melainkan hal-hal kecil seperti gelak tawa gadis mungil saya di Central Park karena berhasil menemukan ranting, atau kelakuan Pakne yang punya obsesi baca koran lokal di berbagai tempat yang kami kunjungi, juga pembelajaran- pembelajaran kecil seperti naik subway, naik taksi hingga menikmati malam. Merasakan udara New York dengan kulit saya sendiri, selalu terasa bagai mimpi.

Saya yakin, selamanya Azma tidak akan lupa, sementara Aleeza pasti minta diajak kesini lagi kalau nanti lihat foto-foto kami. New York, kami pasti akan kembali!