(Masih ) tentang Poligami

Saya menentang dengan Poligami. Mungkin saya gak punya alasan-alasan yang intelek maupun agamis. Sederhana saja, saya mendengar kata hati saya. Yang jelas-jelas teriak, tidak mau ketika saya harus membagi suami dengan orang lain. Yang lantang berucap tidak rela, jika rasa sayang yang unik ini harus dibagi dengan hati orang lain. Yang juga berani bilang, daripada di poligami saya lebih baik cerai saja. Meskipun, mungkin, saya akan terseok-seok, menangis meraung-raung, sampai berdarah-darah untuk bisa menerima. Meski saya hakul yakin, seyakin-yakinnya, sampai detik ini, saya tidak menikahi pria yang salah.

Anyway, begitu membaca tulisan Mbak Feby , teman lama yang sekaligus kakak kelas di kampus, betul-betul kena. Mbak Feby menguraikan sudut pandang poligami dengan menyeluruh, adil, dan masuk akal. Jujur dari segi hati, namun juga sangat bisa diterima sebagai sebuah tulisan yang berpihak dengan adil kepada perempuan. Dengan niat berbagi semangat anti poligami, saya sudah minta ijin, untuk meletakkannya disini. Bersiaplah ini akan panjang, namun kecanggihan Mbak Feby ,yang sudah menerbitkan beberapa buku, mampu bermain cantik dengan kata-kata yang membuat saya terus membaca sampai kata-kata punch linenya yang dahsyat!

Ini dia tulisannya.. selamat membaca dan tercerahkan

Dear Akhi dan Ukhti yang dirahmati Allah,

Sebagian orang mengecam kelompok yang mengritik poligami sebagai salah satu bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Para pengecam ini, mereka yang pro-poligami, memandang bersedia dipoligami juga merupakan pilihan perempuan muslim yang harus dihargai.

Saya setuju bahwa perempuan muslim memiliki pilihan dalam Islam. Namun yang terjadi seringkali tidak sesederhana itu. Pertama, dalam menginterpretasi ayat-ayat Al Quran banyak yang berpandangan bahwa tidak semua orang bisa melakukannya. Hanya “orang-orang dengan maqam tertentu ” saja yang boleh. Kyai, ulama biasanya dianggap yang paling berhak, dan sayangnya mereka ini kebanyakan para laki-laki yang masih bias gender (seringkali karena mengacu pada pandangan kyai di masa lalu yang juga bias gender).

Artinya ‘pilihan bebas’ bagi perempuan muslimah kerap tidak sepenuhnya ada. Katakanlah begini. Bercerai itu halal dalam islam, tapi arasy Allah terguncang karenanya. Tapi bila kamu mau dipoligami maka surga imbalannya. Kalau kamu mau dipoligami, kamu akan menggapai cinta Allah. Hayo kamu, perempuan muslimah, pilih yang mana? (redaksinya tidak persis seperti itu, tapi begitulah kira-kira).

Ini pernah saya alami sendiri pada 2001 saat saya menjadi salah satu peserta pesantren mahasiswa di Darut Tauhid. Hampir dalam setiap materi meski yang tak terkait sekalipun, isu poligami selalu muncul, baik dibahas secara khusus maupun sekedar bercanda. Saat itu saya baru menyadari, betapa kampanye poligami sangat kental di sana.

Ini kampanye lho, bukan sekedar membolehkan. Artinya, pesan yang selalu didengungkan oleh semua ustad di sana (tidak hanya Aa’ Gym) adalah para ikhwan, jadilah laki-laki yang sebaik-baiknya dari segi apapun (kecerdasan, finansial dan segala sesuatunya) agar mampu menikahi lebih dari satu perempuan, dan bagi para akhwat kalau mau menjadi perempuan solehah, harus
mempersilakan suaminya menikah lagi.

Intinya, kami perempuan muslimah yang saat itu menjadi santri Aa’ Gym ‘dibuat’ merasa bersalah jika tidak menerima poligami. Kami yang tidak ikhlas, kami yang tidak solehah, kami yang kurang kuat imannya dan sebagainya.. Kalau sudah begini, apakah kami bisa betul-betul bebas memilih? Siapa sih yang tidak ingin jadi perempuan solehah pemegang kunci surga?

Selesai pesantren, saya yang juga sempat tercuci otak (setuju bahwa poligini adalah jalan keluar terbaik bagi persoalan umat) akhirnya memilih : saya tidak mau menikah.

Kenapa agama yang saya peluk kemudian tak menghargai fitrah keperempuanan saya yang mendambakan kesetiaan dari pasangan? Lantas, buat apa menikah kalau sebagai perempuan solehah saya harus merelakan suami saya nantinya akan menikah lagi?

(Keputusan itu pun dalam kacamata agama, akan terbentur lagi. Jangan sampai tidak menikah, nanti tidak menjalankan separuh agama, tidak termasuk umat Nabi Muhammad dan sebagainya. )

Poligini kerap dianggap sebagai jalan keluar terbaik bagi persoalan umat dengan argumentasi :
1. Jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki, jadi dari pada ada perempuan yang tidak menikah (yang mana itu separuh dari agama) maka para lelaki beristrilah lebih dari satu.
2. Untuk melindungi perempuan janda atau lajang agar tidak terjerumus kepada pelacuran
3. Laki-laki memiliki kebutuhan seks yang lebih besar dan lebih bervariasi daripada perempuan. Bagi laki-laki daripada selingkuh dan berzina lebih baik berpoligini.

Buat saya, jawaban untuk argumentasi itu adalah :

1.Ada kecenderungan keliru dengan data statistik. data terakhir yang saya baca dari BPS menunjukkan jumlah perempuan dan laki-laki sebetulnya masih seimbang. Jumlah perempuan bisa lebih banyak juga disebabkan usia hidup perempuan lebih panjang daripada laki-laki. Artinya para lelaki maukah mengambil istri kedua, ketiga dan keempatnya janda-janda tua beranak banyak? Aa’ Gym menikahi janda, tapi toh muda dan cantik.

2. Saya mengutip Nasaruddin Umar, poligami dan upaya mencegah pelacuran tidak berbanding lurus.
Akar masalah pelacuran adalah kemiskinan, kebodohan, dan kurangnya lapangan kerja. Saya sih memang belum punya riset secara ilmiah. Tapi kenyataannya, seberapa sering sih kita mendengar lelaki mengambil istri kedua dan ketiganya dari kalangan pekerja seks komersial?

3. Apakah pernikahan semata dipandang sebagai urusan perut ke bawah? Urusan seks semata?Kalau memang iya, saran saya lebih baik masturbasi saja. Ok lah ada yang menilai masturbasi itu dosa. Tapi menyakiti hati istri pertamanya, dosa juga kan? –persoalan pilihan dosa personal (kita dengan Tuhan)atau dosa sosial (sesama manusia)

Sebagian orang memperdebatkan masalah keadilan. Ada yang menganggap bila para istri itu merasa diperlakukan adil, kenapa kita harus meributkannya?

Dalam hal ini saya pikir Akhi dan Ukhti mungkin lebih dari faham bagaimana sebuah proses hegemoni kekuasaan bekerja. Sangat halus, tak kasat mata, dan karenanya sangat efektif. Hegemoni ini terlihat pada para istri yang dimadu dan kompak itu.

Mereka merasa apa yang terjadi kepada mereka itu ‘baik-baik saja’ sebab mereka sudah beradaptasi dengan ketidakadilan. Ini mirip dengan perbudakan. Bagaimana jaman dulu para budak itu menganggap bahwa memang sudah takdirnya menjadi budak. Maka itulah yang harus mereka jalani.

Saya hendak mengutip cerita yang dituturkan Nasaruddin Umar perihal Nabi Ayub. Saat ia sedang sakit, sekujur tubuhnya dipenuhi luka borok dipenuhi belatung dan ulat, ia
diasingkan oleh semua orang, termasuk istrinya. Kemudian ia memandangi ulat yang keluar dari lukanya itu dan ia berkata, “Ulat, aku dulu jijik padamu. Tapi kini, kau satu-satunya temanku.”

Dalam hal ini Nabi Ayub akhirnya menikmati ulat-ulat yang ada di tubuhnya. Manusia adalah makhluk yang bisa menyesuaikan diri dengan apapun juga. Termasuk penderitaan. Tapi bukan berarti kita bisa mengatakan bahwa Ayub bahagia dalam ukuran masyarakat luas kan? Saya merasa perempuan-perempuan yang dipoligami dan kelihatan kompak itu juga begitu. Segala sesuatu menjadi
terasa ‘baik-baik saja’ bila kita sudah terbiasa dengan hal itu, benarkan?

Bicara variasi (alasan laki-laki berpoligini atau selingkuh) perempuan sebenarnya juga butuh variasi kok. Tapi bagi perempuan, hal semacam ini kan sudah ditutup rapat-rapat dari pintu apapun. Jadi dari titik berangkatnya memang sudah tidak seimbang. Laki-laki dianggap punya pintu darurat, perempuan tidak akan pernah.

Saya rasa, seandainya dibolehkan secara norma sosial (norma agama juga berinteraksi dengan norma sosial kan..) , ada banyak perempuan yang membutuhkan lebih dari seorang laki-laki.

Tentu bicara sebuah relasi semacam pernikahan, bagi perempuan(seharusnya bagi laki-laki juga kok) tidak hanya persoalan seks saja. Si laki-laki A bisa memenuhi kebutuhan dia dalam satu hal, laki-laki B bisa memenuhi kebutuhan dia dalam hal lain lagi. Dan dia bisa mencintai keduanya dengan derajat yang setara. Contoh saja, dalam UU perkawinan, laki-laki boleh menikah lagi kalau istrinya cacat atau tidak bisa memberikan keturunan. Bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya? Si istri masih mencintai suaminya yang mandul, sekaligus ingin mengalami melahirkan?

Saya tutup surat saya ini dengan kembali menceritakan pengalaman saya di pesantren Darut Tauhid (Agustus 2001)

Suatu pagi, pada ceramah pasca sholat subuh, Aa’ Gym tiba-tiba membawa isu poligami. “Bagaimana ya, poligami itu bisa menjadi solusi bagi persoalan umat, namun memang masih banyak muslimah yang sulit menerima itu,” demikian kira-kira kalimat Aa’ yang disampaikannya dengan ekspresi cukup empatik.

Seorang teman perempuan saya berdiri dan berbicara. Ia tak setuju poligami karena, “Ayah saya berpoligami tanpa ijin Ibu saya. Dan saya tahu persis bagaimana menderitanya ibu saya.”

Dengan tenang Aa’ Gym menjawab bahwa untuk poligami memang tak perlu ijin kepada istri. Hal itu sah dilakukan dan benar di mata agama.

Ia pun bercerita bagaimana teh Nini menangis ketika Aa’ bicara tentang poligami. Teh Nini merasa sedih, kenapa ia belum juga merasa ikhlas kalau Aa’ Gym ingin berpoligami. Teh Nini merasa bersalah dengan ketakrelaannya suaminya itu menikah lagi.

Subuh itu pun jadi basah air mata dari para santri perempuan. Saya dan teman-teman saya. Kami merasa serba salah, merasa terhimpit antara ketidakiklasan berbagi cinta dan keinginan untuk menjalankan agama secara kaffah.Terus terang, ini yang membuat saya paling terganggu. Begitu banyak laki-laki lainnya yang berprofesi sebagai ulama menggunakan iming-iming surga dan cinta Ilahi. Mereka menggunakan otoritas keagamaan untuk memenuhi keinginan mereka.

Begitulah, surga para perempuan (solehah) ternyata ada di tangan laki-laki. Laki-laki yang hendak berpoligami.

salam hangat,

feby indirani,

akhirnya memilih ‘tidak solehah’

3 thoughts on “(Masih ) tentang Poligami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s