a sweet note from pakne

Hari ibu, semuanya bilang begitu. Kamu pun bertanya, “apakah tak ada ucapan untukku?”. Aku hanya membalasnya dengan tersenyum sipu yang kuyakin tak dapat dilihatnya. “Makanya sekarang aku sampaikan padamu, selamat hari ibu,” rajukku. Dia kembali tertawa pendek, sepertinya tak percaya betapa tulus ucapanku itu. “Ahh, kalau ku tak bertanya pasti kau lupa mengucapkannya,” tangkisnya. Ini tipikal jawabannya sekali. Kembali saya tersenyum. Sekali lagi, dengan lembut ku bisikkan, betapa aku sangat bahagia bersamanya. Ku kabarkan lagi, betapa aku menyayanginya dan membanggakanya.” Segera benteng kokoh dan tangkisan kuat menyambar, “Ahh, rayuan gombal.” Ku tahu, walau dia menangkisnya, tapi dia bahagia atas ucapanku siang itu.

Kalau  kau mau tahu, perempuan ini telah mencuri hatiku saat pertama kundengar suaranya malam itu, saat dia berdiskusi tentang teori maslow dengan laki-laki itu, sayup-sayup kudengar dia mendebatnya, sesekali bertanya yang ku yakin dia hanya mengetes lawan bicaranya saja. Aku belum tahu nama sebenarnya. Ku  juga belum pernah mengulurkan tangan untuk berkenalan, tapi jujur, malam itu, aku terpaku dan terbeku. Entah sadar atau tidak, aku pun mengirim permohonan kepada Tuhan agar kami dipertemukan. Setidaknya, sekali untuk berbincang.

Ternyata Tuhan merestui bisikan doa ku. Akhirnya kami ketemu juga. Dalam perbincangan renyah dan tanpa arah di warung pinggir jalan itu, Aku hanya meratap melihat kecantikannya. Kasihan sekali diriku. Batin saya melonjak, jika sebelumnya hanya meminta diberi kesempatan bertemu, kini ku kirim doa lagi kepada Tuhan, aku ingin bisa selalu bersamanya. Ku yakin, ini bukan doa yang salah. “Kuat, Pintar, Fokus, dan tampak kokoh. Ah, apakah saya bisa meruntuhkan hatinya,” batin saya saat itu.

Perempuan ini begitu mempesona. Dari perbincaangan itu, aku tahu, jika dia sudah yakin akan sesuatu, maka ia akan bekerja keras untuk mendapatkanya.  Aku terbayang, hampir mirip ibuku, tentu saja. Jika sudah ada keinginan maka harus dilakukan. dia kokoh sebagaimana kuatnya ibuku menyeretku untuk belajar ngaji di musholla, atau menyeretku saat saya tak mau ikut upacara bendera.

Saat dia mulai menyantap makanannya, kadang matanya berbinar saat menceritakan hal yang membuatnya bahagia. Betul, kalau saat senang dan gembira, energinya luar biasa. Bahkan, tembok China pun bisa dijebolnya. Aku makin kagum. Sepertinya dia cocok bersama ku yang kadang suka grogi, tak begitu percaya diri, sok berwibawa, dan banyak pertimbangan. Malam itu, niat pun kutabalkan dia cocok sebagai istiriku, jadi ibu anak-anakku. Ku yakin, pasti dia akan memberikan warna yang khas pada  anak kami. Menjadi pemberani, kuat, focus, tak pantang menyerah, dan yang utama berakhlak mulia (satu hal yang selalu ku cari saat itu). Menjadi ibu tentu sebuah keniscayaan, dan saya yakin dia akan menjadi ibu terhebat  bagiku dan anak-anakku..Bagaimana menurutmu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s