A half of the century

5 Desember lalu, Mama berulang tahun ke 50. Dan pada usianya yang sudah setengah abad itu, Mama semakin tampak lebih muda. Pakne bilang, karena ulang tahun ke 50 maka selayaknya Mama dianugerahi perayaan special. Jadilah kami (saya, pakne, zee, paman gemol, tante tia, dan bima) kompakan dengan Bapak untuk memberikan mama kejutan. Kebetulan mereka pergi untuk rapat panitia acara pernikahan, sehingga Mama gak nyadar, ketika Bapak membawanya ke restoran Tahu Yun Yi di kawasan Bogor. 

 Singkatnya, kejutan sederhana itu  mampu mengukir senyum di wajah Mama. Kami tertawa, foto-foto, pakai topi ulang tahun, dan makan-makan sambil bertukar cerita. Hanya seutas sunggingan saja yang mampu saya ciptakan, untuk perempuan hebat yang telah menjadi panutan saya selama 28 tahun lebih. 

nyanyi happy birthday untuk mama

make a wish mama...

ibu dari dua anak, nenek dari 3 cucu

ibu dua anak, dan nenek dari tiga cucu

sama mantu-mantunya

sama mantu-mantunya

  

busy with all the hats

Terus terang, saya tidak begitu dekat secara emosional dengan mama. Mungkin karena selama empat tahun saya tinggal dengan si mbah, membuat kedekatan saya dengan mama, tidak seintim keakraban mama dan adik. Saya yang selalu haus diskusi, lebih senang lari ke Bapak, untuk belajar tentang kehidupan. Sangat jarang sekali kami berdua bicara tentang mimpi ataupun masalah percintaan gak penting ala ABG yang dulu saya alami. Interaksi saya dan Mama kebanyakan hanya bersifat praktis. Mama yang selalu saya andalkan untuk asupan makanan enak, menjahit baju untuk saya, sampai urusan payet memayet baju pernikahan. Tidak pernah ada diskusi mendalam, juga konflik yang membekas di hati. 

 Namun, ketika saya berproses menjadi seorang ibu.Saya baru melihat kekuatan Mama yang seungguhnya. Mama selalu ada disana. Dia yang menggenggam tangan saya, ketika mulas-mulas tanda kontraksi muncul saat saya melahirkan anak pertama. Dia disana, ketika saya kehilangan anak pertama saya. Bukan dengan petuah, bukan dengan wejangan. Hanya pesan singkat :Ikhlas ya nduk!. Mama memilih mengajak saya belajar menyulam pita, kumpul dengan ibu-ibu, dan mengajak saya ke mangga dua, belanja 1001 warna pita. Karena dia tau, cara terbaik menyembuhkan hati saya adalah dengan membuat saya sibuk. 

 Dia juga ada disana, ketika saya melahirkan Zee. Menemani hari-hari pertama di rumah sakit, gantian jaga malam, ketika saya masih kelelahan. Hingga hari ini, mama tidak pernah absen membuat Zee tertawa. Mama juga selalu menghargai pilihan-pilihan saya dalam mendidik anak, meskipun akhirnya saya pasrah menggunakan jurus-jurus jitu mama. 

 Not to mention, semua ajaran disiplin mama, mulai dari ngajarin saya membaca. Memaksa saya menghafal perkalian, ketika film Night Rider justru diputar. Ketegasannya menolak rengekan saya yang minta dibelikan Barbie ataupun Rollerblade. Sifat non komprominya soal gizi, yang membuat saya harus menenggak susu setiap hari, atau tidak usah pergi sekolah. Juga pengorbanan mama selama bertahun-tahun, yang selalu menjahit baju lebaran saya dan adik, sambil tetap memasak rendang kesukaan kami. 

 Sesudah menjadi ibu dan tetap bekerja, saya baru sadar, mama saya adalah perempuan dengan energi positif yang tidak pernah habis. Contoh sesungguhnya tentang orang yang mampu memaknai being present. Mama tidak pernah terlalu pusing memikirkan masa depan, juga bingung merenungi masa lalu. Buat dia, hari ini adalah hari ini. Hal-hal tidak penting tidak perlu difikir. Sayang, saya tidak mewarisi secuilpun sifat easy goingnya ini. 

 Saya mengalami sendiri, bagaimana rumah tangga mama dan bapak dibangun tahap demi  tahap. Masih akrab di ingatan, ketika mereka harus membanting tulang mencari pengasilan tambahan. Mulai dari mengajar di sekolah, mengetik skripsi orang lain, hingga berjualan lele goreng. Hingga sekarang, saat boleh dibilang mama memiliki segalanya, sifatnya tidak pernah berubah. Selalu ceria, ramai, dan penuh energi. Saya kesulitan mengingat, kapan mama pernah mengeluh. Meski harus masak setelah seharian bekerja, meski harus menahan jengkel dengan segala keluhan Bapak, Mama tidak pernah sekalipun mengumpat. Entah darimana energinya berasal, sungguh kekuatan seorang perempuan yang pantas menjadi panutan 

Mama juga disana, ketika semua orang meminta saya melamar jadi pegawai negeri dan saya menolaknya. Hanya dengan sms “ Mbak, mama percaya apapun pilihan mbak,”. Mampu membuat saya melaju terus mengejar mimpi, tanpa harus jadi pegawai negeri. Saya hanya bisa menyerahkan amplop gaji pertama saya yang jumlahnya tidak seberapa

mama dan bapak on their early marriage life

her beauty stays until now

Sekarang, di usianya yang sudah 50 tahun. Saya ingin lebih sering mengajak mama jalan-jalan, berwisata kuliner atau sekedar menjelajahi tempat-tempat baru. Hal yang sangat jarang dilakukan oleh Bapak yang lebih senang tinggal di rumah. Karena setiap kali saya jalan-jalan bersama Mama, saya tau dia menikmatinya. Sampai sekarang saya terus berusaha tidak mendebat dirinya, dan tidak protes apapun. Sambil  terus belajar, dengan mengamati kiprahnya menjadi ibu dan nenek, sambil sesekali lari ke pelukannya saat lelah melanda saya. Karena saya tau, disitu saya selalu bisa menemukan surga. 

Selamat hari ibu Mama 

You are the best mom in the universe 

2 thoughts on “A half of the century

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s