Ketika Alia Menikah

Cirebon, 28 Maret 2010

Hari itu, saya bahagia, melihat binar dimatanya, senyumnya yang malu-malu, saat Mas Mono mengecupnya setelah akad nikah. Saya tau, meski tampak tenang, hatinya pasti meletup riuh rendah. Melihat sahabat saya menjadi mempelai wanita yang cantik dengan gaun putihnya, bersiap mengarungi petualangan baru dalam hidupnya.

 Saya juga bangga, bisa ada disana. Ini Alia, sahabat yang baru saya kenal ketika kuliah. Kedekatan kami bermula, saat saya numpang di rumahnya selama 3 bulan saat harus magang di sebuah surat kabar di Jakarta. Maka ayah dan ibunya pun saya kenal baik. Sampai sekarang saya masih ingat aroma rumah teduh di bilangan percetakan negara itu. Disitulah saya mengenal pribadinya, seorang perempuan tenang yang memiliki pemikiran-pemikiran dahsyat tentang hidup. Sejak itu, Alia selalu ada untuk saya. Berdiskusi tentang ini itu, menjadi pundak tempat saya menangis, juga memberikan petuah bijak yang sarat nasehat saat saya betul-betul kehilangan pegangan. Saya tau, banyak rahasia hidup saya terbuka di hadapannya. Maka bisa memeluknya hari itu, rasanya bangga tak terkira

 Hari itu saya juga terharu. Pernikahannya berjalan sangat sederhana, namun saya tidak meragukan maknanya. Karena kesakralannya terikat, saat mama Alia membacakan ayat suci Al-quran, dan papa Alia mengucapkan petuah nikah. Sesuatu yang sangat jarang saya saksikan, namun bisa membuat air mata saya menetes. Ah, sungguh sebuah doa yang Maha Dahsyat, karena saat itu ridho Tuhan mengalir melalui tuturan doa yang terucap dari kedua orang tua yang saya sendiri sangat menghormatinya.

 Saya juga senang bukan kepalang, bisa bertemu teman-teman terdekat. Menghapus rindu yang lama terpendam. Meski lama tak bertemu, tak ada kekakuan, tak ada rasa kikuk. Kami seperti terikat oleh sebuah rasa, dan mungkin itu adalah rasa bahagia yang sama. Saya kangen dengan orang-orang ini, berbagi tertawa, berbagi masalah. Mereka adalah salah satu sumber kekuatan saya.

Hari itu berjalan sempurna. Persis seperti yang Alia selalu impikan. Sederhana, intim, dan penuh makna. Selamat berpetualang ke negeri cinta ya Al…

Kali ini kita berpetualang bersama yaa..

Love you

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s