Menjadi ibu

 

Terus terang, dari sekian banyak ketakutan akan gagal dalam hidup, saya paling takut gagal menjadi ibu. Serius. Sepanjang hidup, saya sudah jatuh bangun gagal. Mulai dari  gagal jadi paskibraka karena alasan kurang cantik, gagal keterima kerjaan karena alasan berjilbab, hingga gagal masuk fakultas kedokteran impian, padahal sudah pontang panting belajar. Meski dari setiap kegagalan itu, saya selalu dapat pembelajaran yang sangat berharga. Tapi gagal jadi ibu? Mudah-mudahan jangan sampai terjadi dalam hidup saya.

Saya punya sedikit sifat perfeksionis dalam diri saja. Sedikit saja, namun cukup membuat kepala tidak karu-karuan saat sesuatu berjalan diluar ekspektasi. Termasuk ketika pertama kali menjadi ibu. Pernah kehilangan seorang putri cantik, justru membuat saya semakin bersiap ketika menyambut Azma, yang kala itu masih di dalam kandungan. Saya banyak sekali membaca buku-buku perkembangan anak dan juga model pengasuhan, tujuannya satu : saya ingin memberikan yang terbaik, dan dengan menjadi ibu yang pintar, saya pasti bisa. Majalah-majalah ibu dan anak pun saya lahap, say abaca semua, mulai dari perkembangan fisik hingga psikologis, alat-alat stimulasi terkini, metode hypnosis, wah macam-macam.. banyak baca malah akhirnya banyak lupa

Menjadi ibu bekerja juga membuat waktu saya terbatas, siapa sih yang tidak ingin mendampingi anak 24 jam. Melihat setiap pencapaiannya, mencium tubuhnya yang wangi minyak telon, dan merasakan nikmatnya tidur dalam pelukan. Namun saya tidak punya itu. Praktis waktu saya hanya akhir minggu. Di kantor saya bertemu dengan banyak ibu muda yang juga baru punya anak. Melihat anak mereka bisa ini dan itu, kadang bikin hati saya stress. Kemudian berpikir kenapa anak saya belum bisa ini? Kapan anak saya bisa itu?

Setelah hampir dua tahun, saya banyak belajar. Setiap anak lahir dengan unik. Dengan menerima itu, saya merasa lebih tenang menjalankan peran sebagai ibu bekerja. Buku-buku kini bukanlah menjadi patokan, melainkan hanya panduan. Diintip jika perlu, dibaca jika memang butuh petunjuk. Selebihnya, seni mengasuh anaklah yang menurut saya berperan membentuk jiwa anak kita.

Buat saya, perkembangan fisik adalah sesuatu yang alamiah. Sejauh apapun kita patuh akan petunjuk buku, setiap anak akan memberikan hasil yang berbeda. Azma misalnya, baru bisa berjalan ketika umurnya 1 tahun 3 bulan. Sementara banyak anak bisa fasih melangkah pada usia 11-12 bulan. Azma tidak mau ditatih, saya juga tidak mengikuti saran orang yang konon perlu mengajaknya ke rumput basah, atau memerciki air rumput di betisnya. Saya pikir, tidak mungkin seorang anak  tidak bisa berjalan. Jadi saya membiarkannya berkembang alamiah, hingga pada suatu malam, dia bisa melangkah lancar, tanpa diminta. Dia berjalan sendiri, satu langkah, dua langkah hingga akhirnya dia berlari. Dan sampai sekarang terus berlari.

Namun kalau soal stimulasi, saya termasuk ibu yang tidak mau ketinggalan. Saya selalu berharap, Azma tumbuh menjadi perempuan yang jiwanya bebas, yang “hidup”, punya passion dan punya keberanian mengejar mimpi setinggi apapun. Jadi saya bebaskan dia bereksplorasi. Untungnya tinggal di Bogor membuat saya memungkinkan melakukan semuanya. Saya jarang melarang jika dia main air basah kuyup, main batu hingga bajunya kotor, main lumpur, main bebek juga main bersama ayam-ayam milik mbah kungnya. Segala music juga saya perkenalkan muali dari klasik, campur sari, hingga lagu anak-anak. Sekarang setiap ada music, kepala Azma ikutan manggut-manggut.

Kalau untuk urusan stress, sebagai ibu saya juga mengalaminya. Mulai dari Azma yang sangat pemilih soal makanan, melatih dia potty training, mengajari dia sikap-sikap yang benar. Seringkali, rasa sabar sudah ada di ujung hati. Inginnya membentak atau mencubit saja. Tapi itulah, menjadi ibu membuat saya memiliki kekuatan dan kesabaran yang segudang. Selalu ada cadangan, rasa sabar itu tidak pernah habis. Sehingga, kalau sudah begini, saya memilih diam saja, sambil kadang saya peluk Azma erat-erat. Daripada saya mengucapkan sesuatu yang nanti saya sesali.

Menghadapi dunia yang semakin gila ini, saya juga ngeri. Akses internet tanpa batas, belum lagi teknologi informasi yang sangat pesat. Tak mungkin sepertinya mengontrol anak setiap saat, juga terlalu naïf rasanya, jika kita mengisolasi mereka dari semua itu. Saya selalu berharap mampu menciptakan komunikasi yang terbuka dengan anak-anak kelak, agar mereka mengerti, selalu ada tempat untuk pulang dan menjadi diri sendiri. Saya rasa, hanya lamat doa yang nantinya mampu menjaga mereka.

Maka bagi saya, menjadi ibu adalah seni. Pembelajaran tiada henti setiap hari. Setiap orang memiliki caranya sendiri-sendiri. Saya rasa untuk itulah Tuhan menciptakan para ibu, karena setiap ibu memiliki goresan tersendiri akan kehidupan. Dan itu yang membuat dunia kita berwarna warni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s