Aleeza Farzana


Allah selalu bekerja dengan ajaib. Setidaknya itulah yang saya rasakan ketika untuk yang ketiga kalinya melahirkan. Karena sudah diprediksi akan melahirkan secara cesar, saya memilih hari Jumat sebagai hari saya di operasi, maka saya memilih 6 Agustus sebagai hari lahir anak saya yang ketiga. Sama seperti dua kakaknya, Laksmi (alm) juga lahir pada Jumat 5 Mei, Azma juga Jumat 8 Agustus. Dua minggu menjelang melahirkan, saya sudah cuti, ini pun saya percepat dari rencana awal yang tadinya ingin 1 minggu saja sebelum melahirkan, namun kandungan yang semakin besar membuat saya lelah.

Hari-hari cuti yang tadinya saya bayangkan akan saya isi dengan bermain, rupanya gagal. Azma sakit radang tenggorokan akut, dan hanya mau digendong oleh saya, tidak mau oleh orang lain.Alhasil, selama hampir seminggu, dengan perut seperti drum band, saya menggendong gadis cilik seberat 13 kg. Ini membuat perut bawah dan paha atas saya nyeri luar biasa, namun saya pun tak kuasa menolak permintaan Azma yang ketika itu tampak menyedihkan : Gusi bengkak dan berdarah, matanya sayu dan kurus karena tidak selera makan.

Pagi itu, Senin 2 Agustus 2010. Saya dan suami menyempatkan diri pergi ke toko kacamata untuk membeli kacamata baru, karena saat operasi saya tidak diperkenankan menggunakan soft lens, dan kacamata lama saya sudah bapuk luar biasa. Maksudnya supaya ketika difoto saya masih bisa gaya dengan kacamata baru. Dari pagi saya sudah merasakan nyeri yang kadang datang dan pergi, saya gak ngerti itu adalah mulas kontraksi, soalnya saya tidak pernah merasakan mulas alami pada dua kehamilan sebelumnya. Sore hari ketika sampai rumah, saya kaget ketika mendapati ada flek coklat.

Pakne pun segera menelepon dokter Achmad, dan sang dokter menyarankan saya untuks egera ke rumah sakit dan memberikan analisa singkat : operasi harus dimajukan.. Disinilah dramanya dimulai. Meski sudah melewati 2 kali operasi cesar, saya tetap deg-degan dan grogi bukan kepalang, saya langusng gemetar dan bingung apa saja yang harus saya bawa ke rumah sakit. Sambil sedikit linglung, saya siapkan daster, pembalut, stagen, baju bayi  p botol dan pompa asi. Semua saya lakukan sambil deg-degan luar biasa. Saya betul-betul tidak siap. Sebelum berangkat, saya peluk Zee sambil menahan tangis, entah kenapa saya merasa belum mempersiapkan dirinya dengan penuh menjadi kakak. Karena sebetulnya saya dan pakne punya rencana ingin berfoto bertiga dan mengajak Zee jalan-jalan sebelum saya melahirkan. Dan semua belum sempet kejadian.

Sepanjang perjalanan saya berdzikir menenangkan diri, memohon agar Allah membantu saya melewati operasi cesar dengan baik, menganugerahkan bayi yang sehat dan selamat. Suster yang memeriksa saya mengatakan saya sudah bukaan satu, dan segera diperintahkan puasa menghadapi operasi keesokan hari. Saya lalu berfoto-foto sebentar untuk mengabadikan perut saya yang sangat besar heheh.

Sepanjang malam, saya tidak bisa tidur, mulas datang dan pergi. Ah beginilah rasanya kontraksi. Ibu dan si mbah yang juga ikut ke RS terus menyemangati saya “dzikir dan tarik nafas nduk”kata mereka. Keesokan hari, setelah meminta maaf pada mama dan si mbah, lalu kepada bapak saya melalui telepon, saya pun disiapkan untuk operasi. Dokter anastesi datang terlambat, memperpanjang rasa deg-degan saya yang sudah dimulai sejak semalam. Saya ngantuk, gelisah, pasrah, semua jadi satu. Memasuki ruang operasi, tim dokter bergerak sangat cepat, seolah mereka sudah melakukan ini ribuan kali (dan saya yakin mungkin sudah lebih dari 1000 kehamilan mereka tangani). Saya menggenggam tangan suster, saat bius epidural mengalir, seketika kaki saya kesemutan, dan perlahan tidak terasa. Saya lalu diletakkan dalam posisi tidur, dan operasi pun dimulai.

Pakne mendampingi saya di ruang operasi. Saya memberinya tugas, yang ternyata terlalu berat untuk dia (maaf ya pakne): memotret kelahiran dari dekat. Rasa tidak tega melihat saya rupanya membuat pakne tidak bisa fokus memotret. Alhasil hanya foto-foto dari jauh saja yang bisa dia tangkap, selebihnya dia ikut terharu bersama saya, ketika putri ketiga kami menangis untuk pertama kalinya. Pakne bergegas mengikuti, dan membisikkan adzan di telinganya.

Tidak berapa lama, suster datang dan meletakkan Aleeza di dada saya untuk IMD. Saya menangis. Takjub kembali, melihat makhluk kecil yang selama 9 bulan saya bawa kemana-mana, kini ada di hadapan saya. Sehat dan sempurna. Jarinya lengkap, wajahnya masih pucat, lemak dan sedikit darah  masih menyelimutinya. Tapi sungguh, harum tubuhnya begitu khas, begitu bersih. Saya menangis, karena Allah memberikan kepercayaan saya untuk merawat lagi satu manusia mungil. Iya saya, yang masih sering bingung akan tujuan hidup, yang masih suka cengeng, yang mudah stress. Sungguh menakjubkan, bagaimana cara Allah bekerja. Subhanallah.

Sekarang saya percaya, setiap kelahiran memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Dan Allah selalu mempunyai cara menjadikan momen itu indah tak terlupakan. Dan inilah dia, keajaiban hidup kami yang ketiga, malaikat cantik yang selalu menjadi sumber kebahagiaan kami, sama seperti dua kakaknya : Aleeza Farzana, lahir 3 Agustus 2010 di RS Gandaria, berat 3,660 kg dan tinggi 50 cm.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s