Si mbah

make a wish mbah..

73 tahun usianya, lebih tua dari republik ini. Tapi jangan tanya soal semangatnya. Selalu membara, layaknya pejuang yang tidak pernah menyerah. Jangan pernah meragukan kekuatannya, menyala seperti  api yang  tidak pernah padam. Dan jangan pernah sangsi akan kesetiannya. Ribuan doa dia panjatkan pada malam-malam disaat saya dan semua orang tertidur lelap. Doa dan mengingat Tuhan, yang selalu mengiringi saya melewati saat-saat penting dalam hidup.

73 tahun usianya. Seringkali si mbah bertanya, kapan Tuhan memanggilnya. Namun Tuhan sungguh sayang pada si mbah. Setiap tahun, meski umurnya terus berkurang, nikmatnya terus ditambah. Apalagi kalau bukan kesempatan memiliki 5 orang buyut yang lucu-lucu, sesuatu yang saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya. Orang bilang memiliki cucu bahagia memuncak, karena rasa sayangnya melebihi sayang kepada anak sendiri. Maka memiliki buyut tentulah anugerah istimewa dari Tuhan.

73 tahun usianya. Kakinya sudah lemah, maka sekali waktu saya belikan si mbah sendal crocs yang nyaman punya. Si mbah girang bukan kepalang, si sendal merek buaya itu menemani dia berpetualang ke dufan, dipakai saat mudik lebaran, mengantar dia ke Sabang, bahkan ikut ke Bali. Belakangan, saya lihat ada tali kenur mengikat sendalnya, rupanya sendal tersayang  sempat putus digigit tikus, lalu si mbah mencoba memperbaikinya kembali. Saya lalu meminta pakne mengantarnya ke gerai crocs, memilih sendal baru untuk menemani petualangannya. Senyum pun mengembang.

73 tahun usianya. Buat saya, si mbah lebih dari sekedar nenek. Dia adalah sahabat saya, tempat saya bisa cerita ketika saya membutuhkan keberpihakan. Si mbah tempat saya berbagi rahasia. Dan dia selalu ada, sejak saya butuh doa waktu ujian Ebtanas SD, waktu mau UMPTN, ketika akan menikah, hingga saya melahirkan 3 kali. Si mbah selalu ada untuk saya. Sejak usia 4 bulan hingga 4 tahun, saya hidup bersama si mbah. Mungkin itulah mengapa saya merasa begitu dekat

73 tahun usianya. Bagi saya dia adalah legenda. Maka pada hari lahirnya 17 Agustus lalu, disaat perjuangan republik merah putih ini dirayakan, kami juga merayakan ulang tahun si mbah. Semua berkumpul, anak, menantu, cucu, dan cicit. Karena kami  sunguh memahami tanpa si mbah, kami semua tidak akan ada disini. Sesederhana nasi tumpeng yang menyertai perayaan itu, air mata dan senyum si mbah, menjadi kenangan terindah bagi kami. Karena jelas, dirinya bahagia.

Selamat ulang tahun mbah.. semoga selalu bahagia saja yang mampir dalam hati mbah, hari ini, besok dan selamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s