Memaafkan dan melupakan

Bersalaman,mengucap senyum, sun pipi kiri pipi kanan “Maaf lahir batin yaa”. Ritual itu yang setiap tahun saya lakukan setiap lebaran. Kepada tetangga yang datang, kepada sanak kerabat, juga kepada teman sejawat. Berharap segala kesalahan akan luruh, semua dosa akan terhapus.

Namun,apakah sesungguhnya hakekat meminta maaf? Apakah cukup dengan ucap lisan? Atau bahkan pesan pendek yang dikirimkan ke semua orang?. Bisakah kita menjadi pemaaf? Bahkan lebih besar, mampukah kita melupakan?

Pemikiran ini terpicu dari mantan supir saya, yang terpaksa saya berhentikan, karena dia melanggar janji. Cuti melahirkan membuat saya  tidak aktif memakai jasanya lagi, sehingga dalam satu bulan, dia hanya efektif bekerja selama dua minggu. Menyadari supir saya adalah seorang yang kurang mampu, maka saya janjikan, gajinya tetap saya bayar penuh satu bulan. Dan saya titip pesan, menjelang kelahiran, harap dia bersiap siap, karena rumah saya yang di Bogor dan rencana melahirkan di Jakarta tentunya akan menciptakan kehebohan jemput sana jemput sini. Dia pun mengiyakan. Ketika harinya tiba, dan saya berharap dia bisa mengantar keluarga saya ke Jakarta, jawaban berbuah kecewa yang saya terima “Saya sudah kerja di tempat lain, karena istri saya marah2 saya tidak kerja,”. Heh? Bukankah saya tetap membayarnya penuh? Jadi, cukuplah sudah, beberapa hari setelah pulang ke rumah,s aya berikan padanya gaji terakhir. Tanpa pesan, tanpa kata-kata. Itulah marah saya dan suami dalam diam.

Menjelang lebaran, sang mantan supir meminta thr. Saya tertawa geli, sambil mengingatkan padanya, “kemana saja ketika saya butuh dia saat saya melahirkan? Kenapa sekarang saat butuh uang dia datang”. Jawabannya singkat sederhana, namun membuat saya berpikir : Kan saya sudah minta maaf sama ibu. Haaaah?

Jadi kalau sudah minta maaf, semua masalah selesai? Lalu dia berhak datang,meminta thr pada saya yang notabene bukan majikannya lagi? Lalu itu membuat dia bisa haha hihi dengan saya tanpa merasa bersalah?. Manaa bisaaaa… saya masih kecewa, dan kekecewaan itu masih membekas.

Namun saya berpikir ulang, apa yang saya harapkan dari dia? Toh waktu tak bisa berulang, dan hanya maaf yang bisa dia lakukan. Dia tetap datang meminta thr, dan tidak kelihatan batang hidungnya ketika silaturahmi lebaran. Hmmm… (makan hati hehehe)

Lalu saya belajar, mengapa Tuhan menghendaki kita meminta maaf terhadap sesama untuk membersihkan dosa. Karena Dia tau, proses itu tidak mudah, proses itu membutuhkan kebesaran hati.Kepada setiap orang yang pernah membuat saya kecewa, tentunya membuat cara pandang saya terhadap orang tersebut menjadi berbeda. Kesalahan itu kemudian menjadi track recordnya, membuat saya juga mungkin menjauh, atau memperlakukannya dengan cara berbeda. Padahal konon, setiap orang belajar dari kesalahan, dan siapa tau kesalahan itu membuatnya juga berubah, menjadi lebih baik, dan mengerti ada beberapa hal yang bisa membuat orang lain tersakiti. Dan proses itu sesungguhnya juga terjadi pada saya, dari setiap kesalahan saya selalu belajar.

Maka kebesaran hati untuk memaafkan, sejatinya juga belajar untuk melupakan kesalahan. Memaklumi bahwa itu adalah proses belajar setiap orang dalam sebuah interaksi manusia. Dan melupakan, menurut saya juga memberikan kesempatan kedua. Kedua kalinya untuk mencoba menjadi dan memahami manusia dengan lebih baik.

Maka lebaran kali ini saya belajar untuk membersihkan hati dengan memaafkan, sebenar benarnya memaafkan.Maaf yang tanpa dendam, maaf yang tulus. Karena setiap orang layak mendapatkan kesempatan kedua bukan?

Selamat lebaran, sungguh sungguh maaf lahir dan batin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s