Merenungi 29

29 tahun menjadi seorang perempuan. 29 tahun juga menjadi putri dari ayah dan ibu saya. 4 tahun menjadi seorang istri. 4 tahun pula sebagai karyawan di tempat terakhir saya bekerja.  Dan 2 tahun menjadi seorang ibu.

Apakah saya bahagia?Lalu bahagia sendiri itu apa? Banyak orang berkata, kebahagiaan ada di pikiran kita. Bahagia adalah pilihan.Karena hidup membawa sejuta rasa ke hadapan kita. Maka menanggapinya dengan senyuman maupun tangisan adalah konon juga pilihan. Berjuta manusia berusaha mencari bahagia, apapun definisinya.

Buat saya, bahagia adalah sesederhana rasa damai dalam senyuman, dan sehebat orang dimabuk cinta. Ketika dilanda bahagia maha dahsyat, tubuh bisa melayang, dada terasa mengembang, meletup dan meninggalkan candu yang luar biasa. Bisa tertawa sendiri seperti orang gila, bahkan menangis berderai-derai bak seorang ibu tak jumpa anaknya selama puluhan tahun. Itulah mengapa, banyak orang termasuk saya selalu ingin merasakan bahagia.

Di usia yang hanya setahun jaraknya dari angka 30 ini, saya belajar, mencapai rasa bahagia adalah kedisiplinan. Karena setiap manusia tau, tantangan terbesar dalam hidup adalah mengalahkan diri sendiri. Entah itu ego untuk menang dalam pertarungan tidak penting, maupun pikiran-pikiran liar yang mampu mengaburkan alam nyata dan maya.

Disiplin untuk selalu berperasangka baik terhadap hidup, percaya dengan baik-baik bahwa semua hal akan indah pada waktunya. Dan ini susahnya luar biasa. Berkali kali saya kecewa karena hidup tak sesuai dengan rencana. Padahal kalau berpikiran baik, seharusnya saya percaya, mungkin besok atau lusa, mimpi saya tercapai. Dengan berpikiran baik, hati tentram, dengan tentram bahagia mampu datang.

Disiplin untuk selalu mendengarkan Allah. Berjuta tanda dia sampaikan pada saya, kadang saya terlalu malas membacanya. Sehingga tidak heran, jeweran lembut kadang mampir, menguji keteguhan hati. Padahal saya tau, seharusnya saya disiplin membuka dan menutup hari dengan doa. Saya perlu disiplin, mempercayai doa adalah satu elemen penting disamping usaha. Doa adalah kendaraan yang memudahkan bisikan harapan didengar Tuhan.

Disiplin dalam memandang hidup, bahwa hari kemarin adalah masa lalu, dan masa depan adalah mimpi. Saya hanya punya hari ini. Hal terbaik yang saya bisa adalah melupakan yang buruk, mengambil yang baik. Terus bermimpi agar batere energi terus terisi. Kadang, kegiatan melamun tidak penting yang suka saya lakukan membuat saya gusar. Bingung mengambil keputusan. Iri melihat hidup lain. Rasa tak menentu ini, sungguh mudah mengusir bahagia dalam hati.

Maka menurut saya, bahagia adalah rasa yang harus diusahakan. Dia kebanyakan tidak datang tiba-tiba. Semakin berliku semakin indah rasa pertemuannya. Kebaikan harus dimaknai lebih, agar tidak lewat begitu saja dalam hidup. Kunci pertama dari bahagia adalah bersyukur, dan untuk mampu menjadi seorang manusia yang bersyukur saya harus lebih cerdas memaknai masa lalu, mendengarkan apa yang alam sampaikan pada saaya, belajar lebih banyak pada semua orang yang kita temui dalam hidup. Hidup hanya sekali. Dan setiap hari umur saya berkurang.

29 tahun. Saya harus lebih disiplin.

PS : Terima kasih untuk teman dan sahabat yang mengucapkan selamat ulang tahun, sungguh hari ulang tahun membuat saya selalu merasa disayang🙂

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s