Saatnya berburu mimpi

Kemarin malam, di gerbong kereta perempuan Jakarta-Bogor, niat saya untuk tidur sepanjang  perjalanan langsung batal. Sesaat setelah memenangkan pertempuran tempat duduk dengan para perempuan yang ternyata ganasnya minta ampun, mata saya menangkap sosok baju merah yang tengah mengatur duduk di kursi lipatnya. “Meh!” saya memanggilnya.

Seorang kawan SMA bernama Swasti, tapi kami semua lebih senang memanggilnya Meh saja. Semenit kemudian dia sudah menggelar kursi lipatnya di hadapan saya, dan perjalanan Jakarta Bogor terasa menjadi begitu singkat, ketika kami tenggelam dalam cakap rindu dan kisah terbaru.

Meh baru saja menyelesaikan gelar masternya di bidang Hukum Bisnis. Perempuan berjilbab ini berhasil menjadi salah satu dari sekian banyak manusia yang lolos beasiswa Chevening. “Ini keberuntungan,” kata dia. Ah saya tidak percaya, dan betul saja, perempuan dengan skor IELTS 7.0 ini sudah 5 kali gagal melamar beasiswa AUSAID, namun itu tidak menghentikan tekadnya berburu beasiswa. Tercatat beasiswa prestigious STUNED dan Mombugakusho Jepang takluk di tangannya. Namun, rejeki membawanya pergi ke Inggris,dan menuntut ilmu disana “Ayo, lu juga musti coba. Keluarga gak jadi hambatan kok”.

Saya jadi teringat mimpi ini : melanjutkan sekolah ke luar negeri. Ini mimpi saya sejak lama, dan selalu terselip disana. Juga kadang menguak iri, saat melihat teman-teman sudah berhasil melanglang buana. Mengapa saya ingin sekolah di luar negeri? Saya ingin merasakan dengan kulit saya sendiri, udara yang berbeda, dan hembus air baru. Mempelajari budaya, bahasa, dan banyak jiwa-jiwa inspiratif. Dalam mimpi saya, anak-anak ikut serta. Iya, saya ingin putri-putri  kami juga mencecap pengalaman ini. Memberikan pelajaran bagaimana keluar sejenak dari hidup nyaman, dan melihat manusia lain menjalani hidup yang berbeda. Mimpi ini saya gantung tinggi-tinggi.

Namun,pertemuan dengan Meh juga membuat saya malu. Karena saya belum pernah memul ai perburuan saya. Saya belum pernah memilih beasiswa mana yang harus saya bidik. Terus menunda  dalam mempersiapkan amunisinya. Senjata IELTS maupun TOEFL belum pernah saya khatamkan. Saya mungkin terlalu takut. Takut untuk berburu di hutan yang saya tidak tahu. Tapi mungkin saya memang pengecut, karena sampai hari ini, saya hanya melihat hutan belantara beasiswa ini dari kejauhan. Terus menunda untuk berkenalan.

Sekarang saya memberanikan diri untuk bersiap. Saya akan berburu mimpi, memasuki hutan yang saya takut sambil terus mengasah parang untuk bertempur. Perlahan saja mungkin, tapi saya bertekad, kali ini saya akan berjalan mendekat.

Tuhan, berjalan bersama saya ya?

6 thoughts on “Saatnya berburu mimpi

  1. hartinah says:

    aaiiihh aku jadi kepikiran juga sama cita-citaku yang ini..
    tapi tidak pernah berani mencoba :p

    semangat ya mbak😀
    Tuhan bersama orang-orang yang berusaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s