Hari Pertama Mencicipi New York

Saya selalu mimpi bisa menjejakkan kaki di New York. Sejak tahu akan ke negeri Paman Sam, saya sudah niat ingin mencicipi kota cantik yang selama ini hanya bisa saya lihat melalui layar kaca saja. Jadi minggu lalu, pergilah kami ke New York City. Dengan jatah libur pakne yang terbatas, kami hanya bisa berkeliling NYC selama 3 hari saja. Pendek betul, tapi mimpi kadang tak perlu tidur panjang, sekejap tapi membekas.

Hari pertama kami mengunjungi Empire State Building, yang merupakan gedung tertinggi di NYC. Melihat kota ini dari ketinggian sungguh mengagumkan. Dari sini kami bisa melihat berbagai sudut kota 360 derajat. Gedung-gedung seperti Chrysler Building ( yang saya sempat kira itu adalah Empire State Building hehe), Brooklyn Bridge, Rockefeller Center, sampai Patung Liberty dari jauh. Dari atas, saya juga mengintip Central Park, yang tampak berwarna cokelat dari atas, karena daun-daun sudah berguguran semua. Ternyata, taman ini sungguh luas, tak heran jika menjadi atraksi tersendiri di NYC.

20130226-035644.jpg

20130226-035704.jpg

20130226-035722.jpg

20130226-035746.jpg

20130226-035758.jpg

20130226-035815.jpg

20130226-035842.jpg

20130226-035904.jpg

20130226-035919.jpg

20130226-035938.jpg

Dari awal, saya dan pakne sepakat untuk tidak menyewa mobil dan memilih menjadi New Yorker selama 3 hari. Artinya, peta, subway, dan taksi menjadi andalan kami untuk bergerak. Rupanya ini pilihan tepat, mengingat lalu lintas NYC yang selalu padat dan macet, rasanya tidak mungkin kami bisa survive . Meski hiruk pikuk, NYC adalah kota dengan penataan yang matang. Blok- blok yang rapih, dan jalur subway yang lengkap membuat petualangan kami menyenangkan. Saya juga baru mengerti, kalau garis horizontal di peta menandakan street sementara garis vertikal adalah avenue. Nyasar? Sudah pasti hehe, tapi nyasar di NYC malah menyenangkan. Saya sempat berasa Carrie Bradshaw pas jalan- jalan di NYC, bedanya ini pakai mendorong stroller haha.

20130226-040603.jpg

20130226-040622.jpg

20130226-040634.jpg

Karena kami kesana pas musim dingin, NYC nyaris tampil tanpa warna. Di setiap sudut jalan pohon-pohon hanya bersisa ranting saja. Jadi taksi kuning khas NYC menjadi satu-satunya asesoris manis yang menghiasi jalanan. Seperti di film- film, dengungan polisi dan ambulance tak henti- henti menjadi musik di berbagai blok. Asap-asap yang muncul di berbagai ruas jalan menambah kemagisan tersendiri bagi NYC.

20130226-041004.jpg

20130226-041022.jpg

20130226-041036.jpg

Kami lalu menyusuri jalanan Broadway, saya pingin banget nonton pertunjukkannya, namun dengan waktu yang sempit, dan dengan dua bidadari kecil yang masih jetlag, tampaknya keinginan ini sementara masuk ke dalam bucket list saya. Lalu kami tiba di Times Square. Energi dari tempat ini sungguh luar biasa. Berbagai lampu dari TV raksasa menyinari jalanan, juga berbagai billboard pertunjukkan Broadway yang aduhai. Saya juga sempat berfoto di depan mobil NYPD. Sesaat saya sempat gak percaya, saya bisa menginjakkan kaki disini, bersama orang-orang yang saya sayangi. Ah mimpi yang menjadi nyata memang indah, membuat lelah di kaki dan punggung saya tak penting lagi rasanya.

20130226-041616.jpg

20130226-041633.jpg

20130226-041651.jpg

20130226-041706.jpg

20130226-041718.jpg

20130226-041726.jpg

20130226-041738.jpg

20130226-041751.jpg

20130226-041758.jpg

20130226-041820.jpg

Yang saya suka dari NYC adalah sungguh banyak penjual makanan mediterania halal di pinggir jalan, termasuk beberapa penjual hotdog. Saya pun mencoba hotdog NYC seharga USD 2 ini, kayanya kalau di film-film kok enak betul. Ternyata yaa, hanya sosis goreng diletakkan di roti hotdog, ditaburi bawang bombay, saus tomat dan mustard. Rasanya? Hmm biasa saja. Tapi kan saya tidak hanya beli hotdognya, saya membeli pengalamannya. Para penjaja mediterian food </em ini juga menjadi penyelamat kami, karena alasan sederhana : mereka menyediakan nasi! Perut saya dan suami tetap Indonesia, yang selalu teriak lapar kalau belum kenal nasi.

20130226-042213.jpg

Kami lalu menuju Museum of Modern Art (MOMA) kawan saya bilang belum ke NYC kalau belum menginjakkan kaki kesana. Kebetulan setiap Jumat, pada pukul 4-8 malam, museum ini dibuka gratis. Karena salah baca peta, kami malahan ketemu Rockefeller Center yang juga dikenal sebagai Top of The Rock. Disini ada Ice Skating cantik yang bikin Zee dan Aleeza berbinar melihatnya.

20130226-042521.jpg

20130226-042529.jpg

20130226-042535.jpg

20130226-042542.jpg

MOMA sangat ramai, yah maklum namanya juga gratisan hehe. Museum ini menampilkan berbagai karya seni dari berbagai seniman. Setelah ditegur beberapa kali oleh petugas karena anak-anak saya riang gembira memegang berbagain lukisan dan seni instalasi, akhirnya kami memutuskan keluar saja. Tampaknya bagi Zee dan Aleeza, karya seni ini kurang sahih kalau hanya dipandang sambil agak gak ngerti, harus dipegang hehe.

20130226-042829.jpg

20130226-042842.jpg

Diam-diam saya bermimpi lagi, suatu saat ketika anak-anak sudah besar dan bisa mengapresiasi karya seni, kami akan kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s