Tentang 6 bulan terakhir

Semalam, 7 tas besar sudah rapi berjejer di ruang tamu. September 2012 lalu kali pertama keluarga kami menjejakkan kaki di bandara San Francisco dengan perasaan tak percaya. Dan tiba saatnya kami harus pulang. Sudah lama betul saya bermimpi ingin merasakan tinggal di luar negeri. Ketika mimpi itu tercapai, hati rasanya mau meledak kegirangan. Saya tidak berpikir dua kali untuk segera cuti dari kantor dan menikmati jadi ibu rumah tangga selama 6 bulan. Ini hal yang seumur hidup selalu saya nantikan

Namun ternyata, menjalani mimpi pun penuh warna. Sama serunya ketika mengejarnya. Tanpa sadar, mimpi saya datang dengan ekspektasi. Hari- hari pertama saya keriting juga, ternyata masih banyak hal yang saya harus belajar. Saya tidak bisa masak, mencemplungkan diri ke dunia perdapuran membuat saya bolak balik kena minyak panas, makanan yang terlalu asin, juga muter otak mikir menu hari ini yang ternyata lumayan bikin pusing. Belum lagi dua gadis kecil yang cukup pemilih dalam urusan makan. Aleeza sudah menyatakan mogok nasi sejak menginjak San Ramon sampai hari ini. Saya juga harus belajar membagi waktu antara bebersih rumah, cuci baju, cuci piring, ngajak anak- anak main, dan setrika.

Tapi inilah indahnya tumbuh bersama sebagai keluarga. Perubahan drastis membuat kami masing- masing juga tumbuh. Saya belajar, tidak ada yang suka meninggalkan zona nyaman. Anak- anak rindu dengan kakek neneknya, Pakne perlu penyesuaian di kantor, saya juga perlu melepaskan pikiran dari kerjaan kantor. Jadi bersama-sama kami memperluas zona nyaman kami, merentangkan sayap sekuat tenaga agar bisa menikmati perjalanan mimpi yang sejak awal kami tahu, akan terasa sekejap saja

20130316-052441.jpg

Beberapa momen pencapaian selama enam bulan terakhir yang ingin selalu saya kenang…

Saya bisa nyetir!

Saya akhirnya menaklukkan tantangan Zaki setelah lebih dari satu tahun! Di kota kecil seperti San Ramon, urusan angkutan umum sangat minim. Hanya ada bis yang lewat setiap setengah jam, plus kaki yang selalu nyat nyut setiap pagi mengantar Azma sekolah juga berbelanja ke grocery storeMotivasi saya untuk bisa nyetir sungguh tinggi. Akhirnya setelah mengantongi sim California, saya jadi supir tetap mengantar Pakne ke kantor, lalu sering menghabiskan waktu jalan- jalan bersama anak- anak ke perpustakaan maupun ke taman. Target selanjutnya menaklukkan jalanan Jakarta!

Kami survive hidup dengan minim nonton TV

Jatah satu jam sehari nonton TV ternyata membuat anak-anak saya mampu jatuh cinta dengan buku. Mereka bisa tenggelam dalam lembaran cerita, menikmati kunjungan ke perpustakaan juga selalu antusias saat kami ke toko buku. Kami punya rutinitas baca 3 buku setiap tidur siang, dan 3 buku sebelum tidur malam. Dengan minim nonton TV anak- anak saya juga jadi haus melakukan kegiatan yang lebih kreatif dan seru. Mereka jadi lebih menikmati saat kami menggunting dan menempel, atau bermain cat air. Mereka jadi lebih hidup, dan saya pun lebih bahagia, meskipun tiap hari putar otak membuat mereka selalu semangat.

Anak- anak menjadi lebih mandiri

Satu-satunya cara agar saya bisa punya waktu mengerjakan semuanya adalah dengan memberdayakan kemandirian anak-anak semaksimal mungkin. Dulu, dengan dua mbak asisten di rumah, mereka makan disuapi, pakai baju pun tinggal dipakaikan. Disini, saya menerapkan rutinitas dan peraturan untuk mereka. Makan sendiri, mainan harus dibereskan kembali ke tempat semula, memakai baju sendiri untuk Azma, meletakkan baju kotor ke keranjang cucian, makan di meja makan dan lain sebagainya. Awal-awal mereka shock juga, namun ternyata kunci untuk membuat mereka mau berubah adalah tidak memberikan pilihan hehehe. Lama-lama mereka terbiasa, dan buat saya ini pencapaian terbesar saya sebagai Ibu. Senang sekali melihat mereka belajar bertanggung jawab.

Jalan-jalan kesana kemari

Saya selalu bermimpi menjadi keluarga yang sering travelling. Karena menurut saya, jalan-jalan itu nutrisi jiwa. Disini, kami setiap minggu jalan-jalan. Kota kami hanya 40 menit ke San Francisco,hampir setiap minggu kami menjelajahi kota cantik tersebut. Kami juga sering berkunjung ke berbagai museum. Favorit anak-anak adalah Natural History Museum, mereka selalu berbinar melihat berbagai tulang dinosaurus dan menikmati berbaga display musem tentang alam dan hewan. Pencapaian travelling paling dahsyat adalah mengunjungi Disneyland California dan pergi ke New York. Saya sendiri suka berkeliling mota di sekitar San Ramon, seperti Dublin, Danville, dan Plesanton, menikmati sore dan hembusan udara sejuk yang nyaman. Jadi, kami sudah pernah road trip naik mobil 14 jam ke Grand Canyon Arizona, mencicipi Cable Car di San Francisco, menjajal subway di New York, mencoba penerbangan domestik Amerika, hingga nyasar naik bus di San Ramon. Selama 6 bulan, kami berhasil menjejakkan kaki di 7 negara bagian yaitu California, Arizona, Nevada, Washington, Oregon, New York, dan Washington DC. Dan saya makin pinter packing dengan dua krucils!

Merasakan salju pertama kami

Kami pertama kali main salju di Lake Tahoe, California, sekitar 4 jam dari San Ramon. Dan selamanya tidak akan pernah saya lupa. Menyentuh salju yang putih dan lembut. Salju membuat pemandangan sepanjang danau menjadi negeri dongeng. Jangan tanya Azma dan Aleeza, mereka sampai harus saya bujuk untuk pulang. Kami bertahan dengan baju 4 lapis untuk menahan dingin, dan harus saya akui segalanya tampak lebih fotogenik dengan salju. Melihat salju lembut turun dari langit itu rasanya magis, dan saya belajar tidak ada perpaduan yang lebih menyenangkan daripada cuaca cerah dan salju. Bermain salju sambil bermandikan matahari adalah perpaduan sempurna.

Bertemu dan bersahabat dengan keluarga Indonesia

Di San Ramon, ada sekitar 8 keluarga dari kantor suami saya. Menjadi minoritas membuat kami sering berkumpul, mulai dari sekedar makan malam, hingga bedah buku bersama. Meski baru bertemu disini, kami sudah seperti keluarga. Saya sempat juga travelling bareng dengan beberapa keluarga, dan membuat kami tambah dekat. Sama dengan saya, perubahan membuat mereka tumbuh bersama sebagai keluarga. Kehilangan supporting system di Indonesia, membuat mereka belajar banya hal baru, dan saya banyak belajar dari mereka. Saya akan kangen dengan komunitas kecil ini

6 bulan lalu kami datang ketika musim gugur muncul. Daun-daun oranye cantik menyambut kami di San Ramon. Sekarang, musim semi melepas kami pulang. Bunga-bunga kecil dan cantik yang mekar mengucapkan selamat jalan. Saya tidak mau bersedih karena mimpi ini berakhir, saya memilih tersenyum karena semua ini terjadi.

Dalam perenungan saya, hidup itu seperti ini adanya. Mampir sebentar saja, dan ketika saya tahu bahwa waktu saya sebentar saja di Amerika, saya selalu memaksimalkan setiap harinya agar bermakna. Dan seharusnya seperti inilah saya menjalani hidup, dimana saja, kapan saja, setiap hari harus berkesan. Karena tidak ada hari yang sama, dan waktu adalah sesuatu yang tidak bisa saya beli seberapapun uang yang saya punya.

Dan kini saatnya kami pulang, hanya 7 tas berisi berbagai barang. Namun hati saya penuh berisi berbagai macam kenangan dan semangat untuk mencapai mimpi lain. Mimpi yang lebih tinggi dari sekarang.

Ikan peda dan sambal terasi, saya datang!

4 thoughts on “Tentang 6 bulan terakhir

  1. Aiko says:

    Aaaaa aku sangat-sangat bermimpi untuk bisa tinggal di Amerika dan aku pengen banget mainan salju😀 hehe

    Mbak hebat banget 6 bulan udah bisa macem-macem dan menjelajah berbagai tempat!

  2. bebobshoes says:

    Hai, Dear!
    Suka ngeblog? Yuk raih kesempatan kamu mendapatkan handphone LG L3!
    Ikuti #BebobShoesStory Blog Contest persembahan Be-Bob Shoes.
    Cek syarat & ketentuannya di bit.ly/12oqvlq

    Follow juga twitter kami di @DELICISHOES untuk info lebih lanjut.
    Thank you🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s