Nostalgia Bandung

IMG_1262IMG_1264IMG_1265IMG_1270IMG_1240IMG_1266IMG_1263

IMG_1267

Weekend kemarin, saya pergi ke Bandung sendirian. Menghadiri Crafty Days Tobucil di Bandung. Sedari dulu, saya selalu suka segala sesuatu yang DIY, buatan tangan, buatan rumahan. Ibu dan nenek saya penjahit ulung, piawai menjahit pakaian, membuat  tas hingga asesoris. Sampai sekarang Ibu saya masih percaya, segala sesuatu yang dibikin sendiri hasilnya lebih memuaskan. Sayangnya,kebisaan ini sama sekali tidak menjejak di diri saya. Satu-satunya ketrampilan tangan yang saya pernah coba adalah sulam pita! I was really good at it, sampai suatu hari minus kacamata saya bertambah drastis.

Jadi begitu memasuki Gedung Indonesia Menggugat yang isinya crafter semua, saya tertegun kagum. Hebat sekali anak-anak muda ini, kreatif dan punya semangat wirausaha. Saya seneng banget melihat note book lucu, lalu kerajinan batik dan kayu yang diolah apik. Favorit saya adalah boneka kain home made yang dibuat sempurna di setiap detailnya. Sang boneka punya nama, pipinya bersemu merah sempurna, ketika melihatnya saya saja bisa senyum-senyum sendiri. Yang hebat, penjualnya sungguh sepenuh hat. Ketika saya memutuskan membeli satu boneka, si mbaknya merapikan baju dan menyisir rambut sang boneka, lalu perlahan memasukkannya ke dalam kantong. Ya saya rasa itulah mengapa barang-barang home made selalu terasa punya magnet. Karena di setiap produknya, tertinggal jejak hati sang pembuat. Aleeza sangat suka bonekanya, kami memberinya nama Dolly. Zee? dia langsung bilang ” Aku gak suka boneka!” hehe gadis saya yang tomboy ini lebih berbinar jika dibawakan robot maupun mobil-mobilan.

Tapi yang bikin saya bahagia adalah saya ketemu sahabat-sahabat lama. Pagi-pagi saya sudah nangkring di hotelnya Grace, niatnya hanya membunuh waktu barang satu jam. Tapi berujung ngobrol ngalor ngidul, ketawa-ketawa senang. Setelah bertemu Grace, saya bertemu juga dengan Rima. Sahabat kuliah yang sudah 10 tahun tidak saya jumpai.

Bersama Rima, saya seperti tenggelam dalam mesin waktu. Tidak seperti saya yang sudah amnesia terhadap banyak detail kehidupan, Rima bisa mengingatnya tanpa cela. Dia membuat saya tergelak sampai berlinang air mata, mengingat berbagai permainan bodoh yang dulu kami lakukan, stress mencari dana, insecure urusan pertemanan, sampai membahas percintaan. Semua mengalir lancar, seolah kami tidak pernah berpisah 10 tahun. Saya pulang dengan perasaan hati yang penuh, jiwa saya ternutrisi sempurna.

Sesekali  berkelana sendirian, rupanya sungguh menyenangkan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s