Penyelaman Pertama

Saya sedang senang. Senang karena punya kegemaran baru, yakni menyelam. Sudah lama menyelam menggantung di bucket list saya. Baru sebulan kemarin mulai terealisasi. Masih jauh dari mahir, masih gagap disana sini. Tetapi layaknya segala pengalaman pertama, saya ingin mengenang pengalaman ini, mengenang berbagai kebodohan yang saya lakukan, juga mengenang betapa menyenangkannya menjadi murid dan belajar.

Sejak latihan pertama bersama instruktur saya Mario, atau saya lebih suka memanggilanya Pak Guru, saya sudah tahu, menyelam adalah aktivitas yang memerlukan pikiran,hati, dan badan saya untuk fokus. Untuk present. Seperti Pak Guru bilang, menyelam erat sekali kaitannya dengan safety, sehingga segala sesuatunya harus baik dan benar. Meleset sedikit, sejenak melamun, bisa buyar segala teknik pernafasan. Ketika Pak Guru pertama kali menjelaskan teori menyelam, saya sempet kaget juga, ternyata olahraga ini cukup serius, karena secara alami, tubuh kita di desain untuk bernafas dan beraktivitas di daratan, untuk menjadi makhluk air, maka ada beberapa teknik yang harus dikuasai, dan banyak peralatan yang harus difahami.

Singkat kata, kelas teori dan menyelam di kolam sudah selesai. Saya dan murid-murid lain pergi ke Pulau Pari untuk uji nyali : menyelam di laut. Excited campur grogi, saya, Khrisma, Nadia, dan Viona berangkat bersama Pak Guru dan Wila, instruktur tambahan, yang belakangan saya mengerti tugasnya adalah mengawasi kami-kami yang masih gagap di laut sekaligus juru foto. Oh yeah!

photo 5

photo1

Meski sering ketawa-ketiwi , tetapi untuk urusan safety dan pengaturan waktu, Pak Guru sangat disiplin. Untuk memudahkan penyelaman, kami dibagi dua kelompok, menciptakan buddy system. Saya berpasangan dengan Viona, Khrisma dan Nadia. Penyelaman pertama dimulai setelah makan siang, setelah mengenakan wet suit, dan mempersiapkan segala peralatan. Kami naik perahu menuju tengah laut.

Ketika kapal kecil yang kami tumpangi membelah ombak, saya lalu jatuh cinta. Jatuh cinta pada damai yang tercipta dari tiupan angin dan deburan ombak. Memandang laut yang seolah tanpa batas meninggalkan rasa tenang di hati saya. Saya butuh ini, saya butuh nutrisi jiwa ini. Dengan berbagai kesibukan di hari kerja dan menjalani hidup yang kadang autopilot, berada di tengah laut membuat saya bahagia.

photo3

photo2

IMG_5787

Ketika akhirnya kami berempat nyemplung ke laut, lalu perlahan melepaskan udara untuk bisa menyelam, saya seperti berada di dimensi lain. Di dalam air biru itu hanya ada empat penyelam pemula yang masih kikuk, ditambah Pak Guru, Wila, dan satu orang dive master. Maka saling percaya menjadi nyawa. Kami menjaga buddy masing-masing. Berkali-kali pak Guru memastikan kami baik-baik saja. Ketenangan jiwa dan pikiran menjadi kunci untuk bertahan.

Indra saya diuji sampai batasnya, tak ada komunikasi kecuali dengan isyarat tangan, saya bisa mendengar laju nafas saya, merasakan telinga yang menyesuaikan dengan tekanan air. Berkali-kali saya terpesona dengan bagaimana cara tubuh saya beradaptasi. Tuhan memang Maha Besar. Subhanallah

Di dalam laut itu kami mengulangi kembali berbagai teori yang sudah diberikan di kolam. Ya Tuhan, sungguh berbeda sekali. Kebetulan lokasi kami menyelam adalah karang berbentuk tebing landai dan dimeriahkan dengan laju ombak yang sukses membuat saya terombang-ambing. Sudah seperti ikan yang baru lahir dan kebingungan, kami melakukan perintah Pak Guru di bawah pengawasannya. Setiap selesai,reward Pak Guru adalah sebuah high five dan tepuk tangan, yang membuat saya tersenyum dan bersemangat.

IMG_5722

IMG_5760

Ketika menunggu teman-teman lain, saya sempat menikmati karang dan ikan-ikan kecil yang berenang di antaranya. Sungguh seru dan menakjubkan. Saat menyelam yang kedua, kami berenang mengitari karang yang lebih besar. Sambil berusaha menyeimbangkan badan, mengatur nafas, dan sedikit ketakutan melihat laut yang gelap, saya mengepakkan kaki. Melihat berbagai ikan kecil warna-warni, berkelompok berenang kesana kemari. Ah tak terungkap senangnya!

IMG_5813

IMG_5783

IMG_5770

Kami muncul di permukaan dengan berbagai cerita. Saya dan Nadia sempat muntah karena mual, Viona sempat panik, Khrisma juga sempat kesal karena sulit mengendalikan tubuh agar tidak naik ke permukaan. Saya dan Viona bahkan berenang sambil berpegangan tangan, karena merasa sendirian di dalam laut. Kami tertawa lepas di tengah laut, cekikikan dengan fakta bahwa di dalam sana, kami sungguh tak berdaya.
Tapi kami semua sepakat, menyelam mengajarkan kami tentang percaya. Percaya pada orang lain, percaya pada diri sendiri sekaligus menguji batas diri dan nyali. Percaya bahwa pikiran kami adalah raja, dan dia bisa mengendalikan setiap sel tubuh. Percaya, bahwa di bawah sana, menyerah bukan pilihan.

Selain itu, saya belajar, pengalaman menyelam sama seperti travelling selalu membuat saya belajar betapa pentingnya menikmati waktu kini. Berfokus pada keselamatan, saya tidak punya pilihan selain untuk fokus fokus fokus! Ini membuat dunia terlihat berputar lebih lambat, saya bisa melihat air,ikan, udara, awan dengan sempurna. Menikmati present moment, membuat pikiran saya santai dan mampu bersyukur dan tulus, tentang begitu banyak kebesaran Tuhan dan nikmat yang telah Dia berikan untuk saya. Ah saya tak sabar menjelajahi laut cantik Indonesia di berbagai pulau.

Saya pulang dengan perasaan bahagia. Bonusnya : Tidur lelap, nikmat luar biasa!

*underwater pictures by wila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s