Pudding Roti Tanpa Telur

Image

Aleeza alergi telur, dan makannya pemilih sekali. Begitu nemu resep pudding roti, saya coba ganti telurnya dengan bubuk flaxseed. Ternyata tetap bisa membuat pudding mengembang dan rasanya juga lezat. Resepnya cukup mudah, saking mudahnya saya hanya menyiapkan bahan dan melakukan instruksi saja, semuanya dilakukan oleh Azma. Dia senang sekali, sehingga kami sampai membuatnya dua kali. 

Bread Pudding (resep asli dari allrecipes.com)

saya membuatnya setengah resep, disesuaikan dengan ukuran mangkok yang ada di rumah

Bahan-bahan

5 buah sari roti tanpa pinggiran

1 sendok makan mentega yang dilelehkan

2 telur (saya ganti dengan 2 sendok flaxseed dicampur 6 sendok air hangat diaduk hingga mengental)

1 cup susu cair

1/2 cup gula putih

1/2 sendok teh kayu manis bubuk

1/4 sendok teh vanilla bubuk

 

Cara memasak :

1. Potong-potong roti menjadi ukuran kecil dan masukkan ke dalam pinggan tahan panas

2. Siram roti dengan mentega cair dengan merata

3. Campur susu, gula putih, flaxseed, kayu manis bubuk, dan vanilla. Aduk hingga merata

4. Siram campuran susu ke dalam roti, tekan-tekan roti hingga seluruhnya terendam.

5. Masukkan ke oven dengan suhu 150 derajat celcius, panggang selama 45-60 menit.

 

 

 

 

Advertisements

21-day cleans challenge : Ternyata Saya Bisa!

Saya pembenci sayur. Seumur-umur sayur yang saya suka makan adalah hanya bayam di sayur bening, kangkung, dan sop kuah saja. Oh tambahan satu lagi, daun katuk yang terpaksa saya makan demi menambah produksi air susu waktu baru melahirkan. Sisanya, saya lebih sering makan keringan, hanya nasi dan lauk. Sayur tidak menjadi pilihan. Tapi setidaknya saya monster buah, saya suka hampir semua jenis buah.
Namun menginjak usia 30 (ehm!) saya mulai menyadari stamina saya kok jadi gampang lelah, bolos sebentar pakai body lotion kulit sudah kering. Apa-apaan ini? Kemana ya kulit kencang yang dulu? Saat itulah saya mulai sadar, saya musti serius ngatur makan saya. Saya mulai dengan berhenti minum minuman bergula. Sejak Januari, saya hanya minum air putih. Saya sudah resmi mengucapkan selamat tinggal pada the botol, es jeruk, es the manis, dan segala rupa bentuk es yang lezat itu namun notabene isinya hanya gula. Ternyata saya bisa.

Lalu, saya akhirnya browsing mengenai green smoothies. Penasaran saja, kenapa banyak orang tiba-tiba meminum cairan hijau yang saya saja sudah geleng-geleng minumnya. Saya ketemu website simplegreensmoothies.com. Wah dari tampilannya saja sudah betul-betul bikin saya tergoda untuk mencoba jus sayur ini. Lalu saya mendaftar sebagai peserta di 30 days green smoothies challenge. Setiap minggu saya menerima email mengenai berbagai resep, lalu daftar belanjaan yang dibutuhkan, lengkap dengan tips dan trick untuk seorang pemula.
Blenderan daun hijau bercampur aneka buah ternyata tidak seburuk yang saya bayangkan. Justru enak! Setahap demi setahap saya ikuti berbagai resepnya. Saya tidak menyangka green smoothies ternyata perlahan mengubah persepsi saya terhadap sayur. Selama 30 hari minum rutin saya merasakan manfaatnya. Perut rasanya lebih enteng, urusan ke “belakang” pun jadi lancar. Saya ketagihan minum ini, jika sehari saja tak minum rasanya kok kurang lengkap. Dari pembenci sayur, lalu menenggak satu sampai dua gelas jus sayur setiap hari. Ternyata saya bisa

Ketika merasakan manfaatnya, Jadah dan Jen, pengelola website tersebut lalu meluncurkan program 21-day cleans. Saya membaca sekilas ini tentang me-restart kembali fungsi pencernaan kita, akan racun-racun di dalam tubuh keluar, dan membuat tubuh lebih sehat. Tanpa banyak pikr, saya lalu membeli modulnya online. Selama 21 hari, kita tidak diperbolehkan mengkonsumsi produk susu, gula, lemak, makanan yang diproses, gluten, kafein, alcohol, kedelai, daging merah, ayam, dan bebek. Melihat berbagai resep yang disediakan, semuanya berbasis tumbuh-tumbuhan. Namun, Jen dan Jaddah betul-betul membuat resep yang lezat dan mudah diikuti, dan tentu saja melibatkan green smoothies di dalamnya. Saya menulis ini di hari ke 22, setelah selesai program. Hasil akhirnya, saya turun 5 kg, merasa lebih berenergi, persepsi saya tentang makanan berubah, dan saya menjadi sadar makanan apa saja yang lebih sehat dan bermanfaat untuk tubuh.
Berikut adalah beberapa catatan dan pembelajaran saya selama menjalani program 21 hari:
– Find a buddy! Saya mengajak Ibu Maya, rekan kerja saya di kantor untuk sama-sama mencoba program ini. Memilik teman seperjuangan betul-betul membantu bertahan terutama di saat-saat awal program, di saat tubuh dan pikiran kita masih melakukan penyesuaian. Bersama Ibu Maya, saya belanja, berbagi bahan, juga rajin ngobrol untuk saling menyemangati. Ibu Maya turun 3 kg selama program ini.
– Saya belajar jadi kaum minoritas. Karena kemana-mana saya selalu membawa bekal makan siang, sementara di sebelah-sebelah saya tercium aroma spageti, bakso, nasi goreng dan lain sebagainya. Saya janji gak akan lagi ngeledek orang yang lagi diet. Ternyata sungguh menantang jadi kaum minoritas.
– Mental harus kuat! Akan selalu ada orang yang meragukan komitmen kita dengan membuat komentar-komentar yang lumayan bikin kuping panas. “Hidup kok dibikin susah sih” atau “Kurus siy, tapi kok kelihatannya loyo” atau “Hah? Emang enak makan begituan”. Just ignore it! Berpegangan tanganlah dengan buddymu haha. Itu resep yang manjur, karena begitu orang-orang melihat kita terus berkomitmen, pertanyaan mereka lalu menjadi dukungan. Teman baik saya bahkan bersedia ikutan makan siang hanya salad demi menemani diet saya.
– Weekend adalah godaan terberat! Setidaknya untuk saya. Karena akhir pekan berarti ibu saya masak di rumah. Saya hanya bisa mengendus saya saat mama memasak ikan nila kesukaan plus sambel terasi dan tempe goreng. Iya itu makanan paling enak sedunia
– Hanya 21 hari! Itu mindset yang selalu saya pegang. Mengetahui batasan waktu ternyata membuat saya lebih termotivasi dan mampu menepis semua godaan. Karena ternyata begitu kita konsisten, lidah dan badan kita pun beradaptasi dan kebutuhan akan makanan-makanan yang menggoda itu bisa ditepis
– Bawa persediaan buah sekeranjang. Makan hanya daun-daunan dan kacang sebagai protein membuat saya mudah lapar. Setiap 2 jam saya menyantap buah mulai dari apel, pisang, pear, papaya dan mangga.
– Tantangan terbesar adalah melawan rasa bosan akan rasa yang itu-itu saja, karena mayoritas resep hanya berbumbu merica dan sedikit garam. Kalau sudah begini, saya modifikasi resep menjadi sup dengan banyak bawang putih dan merah atau oseng sayur.

Tapi di atas itu semua, saya menyadari satu hal : Ternyata saya bisa! Saya bisa makan sayur kalau saya mau. Saya bisa memasak makanan sendiri kalau saya mau. Saya bisa menghindari semua makanan gorengan, cake berlemak kesukaan, hingga cemilan keripik tak bergizi kalau saya mau. Memiliki kebiasaan makan yang sehat ternyata tidak sulit selama kita mau, karena sesungguhnya kita bisa kok.
Setelah 21 hari ini, saya bertekad akan mengurangi lalu perlahan berhenti makan daging merah, mengurangi gorengan dan karbohidrat sederhana seperti nasi putih dan roti putih. Karena saya ingin sehat paripurna. Karena saya tahu saya bisa!

Banana bread

Saya lagi suka bikin kue. Ada kebahagiaan tersendiri, kalau melihat kue di oven mengembang, wanginya memenuhi rumah, lalu matang sempurna. Hari ini saya bikin banana bread resep dari buku Martha Stewart. Hasilnya, banana bread yang lembut, tidak terlalu manis, dan sempurna dimakan hangat hangat. Resep aslinya menggunakan kelapa muda dan kacang walnut, tapi saya tidak menggunakannya, karena anak-anak lebih suka polosan saja.

20130203-133430.jpg

Berikut resepnya :

3 cups all purpose flour
1 teaspoon baking soda
3/4 teaspoon salt
3 large eggs
2 cups sugar
1 1/3 cups vegetable oil
2 tablespoon pure vanilla extract
1 1/2 cups ripe mashed banana ( about 3 medium)
1 cup unsweetened shredded coconut
1 cup walnut or pecans, toasted and finely chopped
1/2 buttermilk

Preheat oven to 350 F. Coat loaf pans with cooking spray ( saya mengolesi loyang pakai mentega lalu tepung). In a large bowl, whisk together the flour, baking soda, and salt. Set aside

Beat with mixer the eggs, sugar, and vegetable oil on medium low speed until combined. Beat in the flour mixture, add the vanilla, banana, coconut, nuts, and buttermilk, and beat just to combine.

Bake, rotating pans halfway through, until a cake tester inserted in the centers comes out clean, 60 to 65 minutes.

resep ini bisa jadi 2 loyang loave besar atau 6 loyang loave kecil