Mengintip Bawah Laut Bunaken

Setelah belajar diving Juli tahun lalu, saya belum pernah lagi nyemplung ke laut. Alat-alat yang sudah dibeli teronggok berdebu, sungguh sayang, pikir saya. Lalu suatu hari, Wila teman saya yang juga instruktur diving mengirimkan pesan melalui BBM, mengajak bergabung untuk diving ke Bunaken, Manado. Ah ini dia! Singkat kata, saya bersedia bergabung, dan bersama Wila saya latihan di kolam untuk mengingat kembali skill-skill bawah laut.

Saya bergabung bersama 18 orang rombongan dari Jakarta. Saya sendiri baru berkenalan dengan mereka saat di bandara, namun beberapa orang tampaknya sudah akrab karena pernah melakukan perjalanan bersama. Kali ini, saya berangkat sendirian, Pakne dan anak-anak ditinggal. Di antara peran sebagai ibu, perempuan pekerja, dan istri, perjalanan ini saya anggap sebagai me time. Saya berfikir, jiwa saya juga perlu disuntik ulang, agar energinya senantiasa penuh. Dan pengalaman membuktikan, travelling selalu bisa membawa saya menemukan diri saya kembali. Sepatu lari tidak ketinggalan saya bawa, supaya bisa menikmati keindahan pinggir pantai Manado di pagi hari.

IMG_1790
IMG_1791
IMG_1870

Hari pertama, kami nyemplung di Lekuan 2, Muka Kampung, dan Timur. Keindahan alam bawah laut Bunaken segera memukau saya. Model terumbu karang yang menyerupai tembok tebing membuat saya harus menengok ke kiri untuk bisa menikmati biota laut. Karang berwarna warni, ikan-ikan yang menari kesana kemari, juga beberapa ekor penyu yang terbang melintasi kami sungguh menakjubkan. Sebagai pemula, kami hanya diijinkan menyelam sedalam 15-20 meter. Sinar matahari yang menembus laut membuat pemandangan menjadi terang dan jelas. Saya menyelam dengan tenang, mengatur nafas dan mencoba mengidentifikasi ikan-ikan yang saya lihat.

IMG_1796
IMG_1805
Processed with VSCOcam with f2 preset
IMG_1981
IMG_2017
IMG_1826
IMG_1807

Ada clownfish yang selalu berenang di dekat anemone, ada ikan atlantic blue tang atau tokoh Dori di film Finding Nemo. Saya juga sempat melewati rombongan ikan golden butterfly fish yang berwarna kuning hitam juga melihat boxfish yang berenang dengan tenang. Alam bawah laut Bunaken sungguh jernih dan berwarna-warni. Indah sekali. Teman-teman yang menyelam hingga 30 meter malah sempat melihat eagle ray atau ikan pari dan beberapa lion fish. Wah pelajaran biologi saya tentang ikan-ikan di bawah laut harus diperbaharui!

Hari kedua kami menyelam ke Fakui, Mandolin dan Lekuan 3. Matahari bersinar cerah ketika kami berangkat dari dive center. Di atas kapal, kami tertawa, menikmati hembusan angin dan kecantikan gunung Manado Tua yang hari itu pucuknya tertutup awan. Hari ini kami berfoto bersama di bawah laut, lalu menyelam bersama sebagai rombongan. Saya sempat melihat dua giant clam berwarna agak pink yang diatasnya dikerubuti banyak ikan. Kali ini, di kedalaman 5 meter pun kami sudah bisa melihat indahnya terumbu karang yang , terus terang, membuat saya berkali-kali mengucap Subhanallah. Saya lalu berniat akan belajar fotografi bawah laut, pengalaman memanjakan mata seperti ini sayang sekali jika hanya tinggal di memori.

Kami lalu makan siang di pulau Bunaken, menikmati pisang goreng hangat bersambal ala Manado, dan menyeruput air kelapa muda. Tak disangkal, selain menawarkan pemandangan, Manado juga memanjakan lidah. Saya puas dan kenyang mencicipi panada, cucur, dan nasi kuning asli Manado. Di hari terakhir, kami menikmati kota Manado dengan puas belanja oleh-oleh, mencicipi bubur Manado yang aduhai lezat dan klapertaart yang sedap!

1978759_10152360032344198_447674545_n
IMG_1908
IMG_1909
IMG_1910
IMG_1926

Perjalanan kemarin terus terang membuat saya ketagihan. Sungguh menyenangkan bertemu teman-teman baru yang sangat terbuka, mudah akrab dan sama-sama mencintai alam. Berada di tengah laut hampir tanpa sinyal, membuat saya terpaksa mengistirahatkan handphone dan tanpa saya sadar membuat saya menikmati betul perjalanan. Tak ada kebutuhan mengecek instagram atau path, hanya menikmati hembusan angin, mengosongkan pikiran dari hal-hal tak perlu, dan menikmati present moment. Hal ini membuat saya sadar, betapa dalam keseharian, kebutuhan eksis di media social membuat saya lupa menikmati apa yang di depan mata. Ungkapan, bahwa teknologi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat sungguh menohok saya.

1509308_10201806882999983_1810410155_n
10170867_10201806915120786_1704315437_n
IMG_2062
10155400_10152138957118512_720910440_n
IMG_1929
IMG_1845
IMG_2003
IMG_1984
IMG_1948

Di tengah laut, saya banyak merenung. Memfokuskan kembali apa yang ingin saya capai dan lakukan salam hidup. Mengalokasikan energi saya pada tempatnya. Tak diragukan lagi, pengalaman ke Bunaken kemarin membuat saya ingin mengeksplorasi dunia bawah laut Indonesia lainnya. Untuk itu, budget baju dan sepatu secara signifikan akan didiskon! Hahaha.. Mari menjelajah laut!

Oh ya salah satu teman saya yang sangat berbakat,Wira, membuat video yang sangat indah dari perjalanan kami kemarin. Silahkan lihat disini

*Foto-foto gabungan dari Wila, Wira, Alodita, Anin, Pak Yosi, Nunu.

Penyelaman Pertama

Saya sedang senang. Senang karena punya kegemaran baru, yakni menyelam. Sudah lama menyelam menggantung di bucket list saya. Baru sebulan kemarin mulai terealisasi. Masih jauh dari mahir, masih gagap disana sini. Tetapi layaknya segala pengalaman pertama, saya ingin mengenang pengalaman ini, mengenang berbagai kebodohan yang saya lakukan, juga mengenang betapa menyenangkannya menjadi murid dan belajar.

Sejak latihan pertama bersama instruktur saya Mario, atau saya lebih suka memanggilanya Pak Guru, saya sudah tahu, menyelam adalah aktivitas yang memerlukan pikiran,hati, dan badan saya untuk fokus. Untuk present. Seperti Pak Guru bilang, menyelam erat sekali kaitannya dengan safety, sehingga segala sesuatunya harus baik dan benar. Meleset sedikit, sejenak melamun, bisa buyar segala teknik pernafasan. Ketika Pak Guru pertama kali menjelaskan teori menyelam, saya sempet kaget juga, ternyata olahraga ini cukup serius, karena secara alami, tubuh kita di desain untuk bernafas dan beraktivitas di daratan, untuk menjadi makhluk air, maka ada beberapa teknik yang harus dikuasai, dan banyak peralatan yang harus difahami.

Singkat kata, kelas teori dan menyelam di kolam sudah selesai. Saya dan murid-murid lain pergi ke Pulau Pari untuk uji nyali : menyelam di laut. Excited campur grogi, saya, Khrisma, Nadia, dan Viona berangkat bersama Pak Guru dan Wila, instruktur tambahan, yang belakangan saya mengerti tugasnya adalah mengawasi kami-kami yang masih gagap di laut sekaligus juru foto. Oh yeah!

photo 5

photo1

Meski sering ketawa-ketiwi , tetapi untuk urusan safety dan pengaturan waktu, Pak Guru sangat disiplin. Untuk memudahkan penyelaman, kami dibagi dua kelompok, menciptakan buddy system. Saya berpasangan dengan Viona, Khrisma dan Nadia. Penyelaman pertama dimulai setelah makan siang, setelah mengenakan wet suit, dan mempersiapkan segala peralatan. Kami naik perahu menuju tengah laut.

Ketika kapal kecil yang kami tumpangi membelah ombak, saya lalu jatuh cinta. Jatuh cinta pada damai yang tercipta dari tiupan angin dan deburan ombak. Memandang laut yang seolah tanpa batas meninggalkan rasa tenang di hati saya. Saya butuh ini, saya butuh nutrisi jiwa ini. Dengan berbagai kesibukan di hari kerja dan menjalani hidup yang kadang autopilot, berada di tengah laut membuat saya bahagia.

photo3

photo2

IMG_5787

Ketika akhirnya kami berempat nyemplung ke laut, lalu perlahan melepaskan udara untuk bisa menyelam, saya seperti berada di dimensi lain. Di dalam air biru itu hanya ada empat penyelam pemula yang masih kikuk, ditambah Pak Guru, Wila, dan satu orang dive master. Maka saling percaya menjadi nyawa. Kami menjaga buddy masing-masing. Berkali-kali pak Guru memastikan kami baik-baik saja. Ketenangan jiwa dan pikiran menjadi kunci untuk bertahan.

Indra saya diuji sampai batasnya, tak ada komunikasi kecuali dengan isyarat tangan, saya bisa mendengar laju nafas saya, merasakan telinga yang menyesuaikan dengan tekanan air. Berkali-kali saya terpesona dengan bagaimana cara tubuh saya beradaptasi. Tuhan memang Maha Besar. Subhanallah

Di dalam laut itu kami mengulangi kembali berbagai teori yang sudah diberikan di kolam. Ya Tuhan, sungguh berbeda sekali. Kebetulan lokasi kami menyelam adalah karang berbentuk tebing landai dan dimeriahkan dengan laju ombak yang sukses membuat saya terombang-ambing. Sudah seperti ikan yang baru lahir dan kebingungan, kami melakukan perintah Pak Guru di bawah pengawasannya. Setiap selesai,reward Pak Guru adalah sebuah high five dan tepuk tangan, yang membuat saya tersenyum dan bersemangat.

IMG_5722

IMG_5760

Ketika menunggu teman-teman lain, saya sempat menikmati karang dan ikan-ikan kecil yang berenang di antaranya. Sungguh seru dan menakjubkan. Saat menyelam yang kedua, kami berenang mengitari karang yang lebih besar. Sambil berusaha menyeimbangkan badan, mengatur nafas, dan sedikit ketakutan melihat laut yang gelap, saya mengepakkan kaki. Melihat berbagai ikan kecil warna-warni, berkelompok berenang kesana kemari. Ah tak terungkap senangnya!

IMG_5813

IMG_5783

IMG_5770

Kami muncul di permukaan dengan berbagai cerita. Saya dan Nadia sempat muntah karena mual, Viona sempat panik, Khrisma juga sempat kesal karena sulit mengendalikan tubuh agar tidak naik ke permukaan. Saya dan Viona bahkan berenang sambil berpegangan tangan, karena merasa sendirian di dalam laut. Kami tertawa lepas di tengah laut, cekikikan dengan fakta bahwa di dalam sana, kami sungguh tak berdaya.
Tapi kami semua sepakat, menyelam mengajarkan kami tentang percaya. Percaya pada orang lain, percaya pada diri sendiri sekaligus menguji batas diri dan nyali. Percaya bahwa pikiran kami adalah raja, dan dia bisa mengendalikan setiap sel tubuh. Percaya, bahwa di bawah sana, menyerah bukan pilihan.

Selain itu, saya belajar, pengalaman menyelam sama seperti travelling selalu membuat saya belajar betapa pentingnya menikmati waktu kini. Berfokus pada keselamatan, saya tidak punya pilihan selain untuk fokus fokus fokus! Ini membuat dunia terlihat berputar lebih lambat, saya bisa melihat air,ikan, udara, awan dengan sempurna. Menikmati present moment, membuat pikiran saya santai dan mampu bersyukur dan tulus, tentang begitu banyak kebesaran Tuhan dan nikmat yang telah Dia berikan untuk saya. Ah saya tak sabar menjelajahi laut cantik Indonesia di berbagai pulau.

Saya pulang dengan perasaan bahagia. Bonusnya : Tidur lelap, nikmat luar biasa!

*underwater pictures by wila

Hari Kedua Mencicipi New York

Selama di NYC kami bertahan melawan dingin dengan 4 lapis baju. Anak-anak bahkan menggunakan 2 lapis sweater agar tak kedinginan. Mungkin karena itu pula, pada hari kedua kami bangun kesiangan. Selain karena perbedaan waktu, badan rasanya memilih untuk ngruntel di dalam selimut daripada bergegas keluar.

Kami menginap di The New York Manhattan Hotel, hanya berjarak 2 blok saja dari Empire State Building. Tujuannya agar kami bisa bangun agak siang, santai dan tidak terburu-buru. Kami mengikuti irama anak-anak, dengan suhu sekitar minus 2 derajat, kami sering “berteduh” di McD untuk menghangatkan diri. Kalau mereka cape ya berhenti, supaya mereka bisa turun dari stroller, leyeh-leyeh sejenak di taman atau main kejar-kejaran. Untungnya anak-anak saya bisa tidur siang di stroller, jadi gak pakai rewel. Ketika saatnya tidur, ya mereka langsung tidur.

Hari kedua, tujuan kami adalah melihat patung Liberty. Kami menggunakan subway menuju ferry tempat menyeberang. Subway NYC termasuk yang paling tua di dunia, jadi kalau dibandingkan dengan subway Jepang dan Shanghai masih kalah cantiknya. Keretanya kadang datang dengann suara berdecit, meski demikian subway ini sungguh bersih dan nyaman. Peta subway sangat jelas, dan jangkauannya pun merata. Yang menjadi kenangan tersendiri adalah, kebanyakan subway di New York tak ada liftnya. Uhuuy… Jadi angkat angkut stroller menjadi tugas pakne, sementara saya kebagian menggendong Deeza dan menggandeng Zee.

Anak-anak menikmati naik subway ini, Zee mengumpulkan semua tiket yang kami dapatkan. Mulut kecilnya juga tak henti bertanya ini itu.

20130226-045958.jpg

20130226-050018.jpg

20130226-050030.jpg

20130226-050039.jpg

20130226-050045.jpg

20130226-050056.jpg

Sayangnya, karena badai Sandy beberapa waktu lalu, patung Liberty ditutup. Kami pun cukup puas melihat dari Staten Island Ferry saja. Layanan penyeberangan kapal ini gratis! Begitu melihat patung Liberty, Zee dan Aleeza langsung berteriak “New Yoooorrrk!” . Haduh, salah emaknya ngebrief, karena beberapa hari sebelum berangkat saya selalu menunjukkan patung ini dan bilang ” Kita akan ke sini, ke New York”. Alhasil, kami harus puas dengan foto keluarga dengan patung Liberty kecil yang mengintip hehe. Tapi harus saya akui, patung Liberty memang megah dan anggun dari kejauhan.

20130226-050614.jpg

20130226-050624.jpg

20130226-050632.jpg

20130226-050638.jpg

20130226-050646.jpg

20130226-050652.jpg

20130226-050657.jpg

Selanjutnya kami menuju 911 Memorial. Monumen ini merupakan sejarah bagi NYC, ketika gedung World Trace Center runtuh pada 9 September 2001. Pemeriksaan memasuki monumen ini sangat ketat, agak berlebihan malah menurut saya. Di sini, ada dua kolam besar bekas gedung WTC yang kemudian dijadikan air terjun. Di pinggirnya, seluruh nama korban tercetak elegan. Ketika kami kesana, museumnya masih dalam perbaikan. Namun, pembangunan gedung baru sudah hampir selesai.

20130226-051557.jpg

20130226-051606.jpg

Dari situ, kami berjalan beberapa blok menuju Wall Street dan melihat New York Stock Exchange. Saya bisa membayangkan, di hari kerja, jalan ini tentu akan super sibuk. Anak-anak sudah lelap tertidur sambil berbungkus selimut. Udara dingin New York berhasil menembus badan saya sampai ke tulang. Brrrr….

20130226-052528.jpg

20130226-052541.jpg

Malamnya, kami menuju Rockefeller Center dan menikmati pemandangan NYC di malam hari. Dari atas deck banyak pasangan sedang bercengkram beromantis ria. Kota ini memang membawa kekuatan tersendiri di malam hari. Tak pernah tidur, dan begitu senja tiba, lampu-lampu menggantikan matahari. Pakne berujar, “Mungkin ini yang Umar Kayam sebut sebagai seribu kunang-kunang di Manhattan”.

20130226-052614.jpg

20130226-052620.jpg

20130226-052626.jpg

Hari Pertama Mencicipi New York

Saya selalu mimpi bisa menjejakkan kaki di New York. Sejak tahu akan ke negeri Paman Sam, saya sudah niat ingin mencicipi kota cantik yang selama ini hanya bisa saya lihat melalui layar kaca saja. Jadi minggu lalu, pergilah kami ke New York City. Dengan jatah libur pakne yang terbatas, kami hanya bisa berkeliling NYC selama 3 hari saja. Pendek betul, tapi mimpi kadang tak perlu tidur panjang, sekejap tapi membekas.

Hari pertama kami mengunjungi Empire State Building, yang merupakan gedung tertinggi di NYC. Melihat kota ini dari ketinggian sungguh mengagumkan. Dari sini kami bisa melihat berbagai sudut kota 360 derajat. Gedung-gedung seperti Chrysler Building ( yang saya sempat kira itu adalah Empire State Building hehe), Brooklyn Bridge, Rockefeller Center, sampai Patung Liberty dari jauh. Dari atas, saya juga mengintip Central Park, yang tampak berwarna cokelat dari atas, karena daun-daun sudah berguguran semua. Ternyata, taman ini sungguh luas, tak heran jika menjadi atraksi tersendiri di NYC.

20130226-035644.jpg

20130226-035704.jpg

20130226-035722.jpg

20130226-035746.jpg

20130226-035758.jpg

20130226-035815.jpg

20130226-035842.jpg

20130226-035904.jpg

20130226-035919.jpg

20130226-035938.jpg

Dari awal, saya dan pakne sepakat untuk tidak menyewa mobil dan memilih menjadi New Yorker selama 3 hari. Artinya, peta, subway, dan taksi menjadi andalan kami untuk bergerak. Rupanya ini pilihan tepat, mengingat lalu lintas NYC yang selalu padat dan macet, rasanya tidak mungkin kami bisa survive . Meski hiruk pikuk, NYC adalah kota dengan penataan yang matang. Blok- blok yang rapih, dan jalur subway yang lengkap membuat petualangan kami menyenangkan. Saya juga baru mengerti, kalau garis horizontal di peta menandakan street sementara garis vertikal adalah avenue. Nyasar? Sudah pasti hehe, tapi nyasar di NYC malah menyenangkan. Saya sempat berasa Carrie Bradshaw pas jalan- jalan di NYC, bedanya ini pakai mendorong stroller haha.

20130226-040603.jpg

20130226-040622.jpg

20130226-040634.jpg

Karena kami kesana pas musim dingin, NYC nyaris tampil tanpa warna. Di setiap sudut jalan pohon-pohon hanya bersisa ranting saja. Jadi taksi kuning khas NYC menjadi satu-satunya asesoris manis yang menghiasi jalanan. Seperti di film- film, dengungan polisi dan ambulance tak henti- henti menjadi musik di berbagai blok. Asap-asap yang muncul di berbagai ruas jalan menambah kemagisan tersendiri bagi NYC.

20130226-041004.jpg

20130226-041022.jpg

20130226-041036.jpg

Kami lalu menyusuri jalanan Broadway, saya pingin banget nonton pertunjukkannya, namun dengan waktu yang sempit, dan dengan dua bidadari kecil yang masih jetlag, tampaknya keinginan ini sementara masuk ke dalam bucket list saya. Lalu kami tiba di Times Square. Energi dari tempat ini sungguh luar biasa. Berbagai lampu dari TV raksasa menyinari jalanan, juga berbagai billboard pertunjukkan Broadway yang aduhai. Saya juga sempat berfoto di depan mobil NYPD. Sesaat saya sempat gak percaya, saya bisa menginjakkan kaki disini, bersama orang-orang yang saya sayangi. Ah mimpi yang menjadi nyata memang indah, membuat lelah di kaki dan punggung saya tak penting lagi rasanya.

20130226-041616.jpg

20130226-041633.jpg

20130226-041651.jpg

20130226-041706.jpg

20130226-041718.jpg

20130226-041726.jpg

20130226-041738.jpg

20130226-041751.jpg

20130226-041758.jpg

20130226-041820.jpg

Yang saya suka dari NYC adalah sungguh banyak penjual makanan mediterania halal di pinggir jalan, termasuk beberapa penjual hotdog. Saya pun mencoba hotdog NYC seharga USD 2 ini, kayanya kalau di film-film kok enak betul. Ternyata yaa, hanya sosis goreng diletakkan di roti hotdog, ditaburi bawang bombay, saus tomat dan mustard. Rasanya? Hmm biasa saja. Tapi kan saya tidak hanya beli hotdognya, saya membeli pengalamannya. Para penjaja mediterian food </em ini juga menjadi penyelamat kami, karena alasan sederhana : mereka menyediakan nasi! Perut saya dan suami tetap Indonesia, yang selalu teriak lapar kalau belum kenal nasi.

20130226-042213.jpg

Kami lalu menuju Museum of Modern Art (MOMA) kawan saya bilang belum ke NYC kalau belum menginjakkan kaki kesana. Kebetulan setiap Jumat, pada pukul 4-8 malam, museum ini dibuka gratis. Karena salah baca peta, kami malahan ketemu Rockefeller Center yang juga dikenal sebagai Top of The Rock. Disini ada Ice Skating cantik yang bikin Zee dan Aleeza berbinar melihatnya.

20130226-042521.jpg

20130226-042529.jpg

20130226-042535.jpg

20130226-042542.jpg

MOMA sangat ramai, yah maklum namanya juga gratisan hehe. Museum ini menampilkan berbagai karya seni dari berbagai seniman. Setelah ditegur beberapa kali oleh petugas karena anak-anak saya riang gembira memegang berbagain lukisan dan seni instalasi, akhirnya kami memutuskan keluar saja. Tampaknya bagi Zee dan Aleeza, karya seni ini kurang sahih kalau hanya dipandang sambil agak gak ngerti, harus dipegang hehe.

20130226-042829.jpg

20130226-042842.jpg

Diam-diam saya bermimpi lagi, suatu saat ketika anak-anak sudah besar dan bisa mengapresiasi karya seni, kami akan kembali.